Arsip Kategori: Pendapatan

Pencatatan Sisa Dana Kegiatan Pada Organisasi Nirlaba

Organisasi Nirlaba jika menerima sumbangan dari donatur yang diikat dengan perjanjian dan dibatasi untuk tujuan dan waktu tertentu atau bersifat sementara hingga kondisi-kondisi pembatasannya terpenuhhi disebut Sumbangan Terikat Sementara.

Contoh : LSM Indonesia bekerja sama dengan salah satu WHO untuk melaksanakan program “Pemantauan atas Iklan dan Sponsorsip Industri Rokok di Indonesia.” dan lembaga tersebut memberi kode atas program tersebut W-01. Atas kerjasama tersebut LSM Indonesia memperoleh dana sebesar Rp. 100.000.000,- untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Perjanjian tersebut ditandatangani tanggal 1 April 2012 dan kerjasama berakhir pada tanggal 30 September 2012. Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa sisa dana kegiatan dan peralatan yang diperoleh dengan menggunakan dana tersebut akan menjadi hak LSM Indonesia pada saat berakhirnya perjanjian tersebut. Atas penerimaan tersebut maka LSM Indonesia akan mencatat :

Dr. Bank …..Rp. 100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Sumbangan Terikat Temporer …..Rp. 100.000.000,-

Pada tanggal 10 April 2012, Tn Ahmad dari LSM Indonesia sebagai penanggung jawab program menerima dana tersebut dari lembaga untuk memulai kegiatan. Atas pemberian dana tersebut, lembaga mencatat :

Dr. Uang Muka Kegiatan – Program W-1 ……Rp. 100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Bank……………………………..Rp.100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Pada tanggal 10 September kegiatan telah selesai dan Tn. Ahmad memberikan Laporan Hasil Kegiatan dan sekaligus mempertanggungjawabkan Dana Kegiatan yang diterimanya dengan perincian Pengeluaran sbb :

1. Biaya2x (Fee relawan, Spanduk dan Cetakan, Transportasi dan Administrasi)…Rp. 63.000.000

2. Peralatan (Kamera, Handycam dan Laptop) …Rp. 27.000.000,-

Atas pertanggungjawaban Tn Ahmad, lembaga mencatat :

Atas Biaya-Biaya yang dikeluarkan LSM Indonesia mencatat :

10/09/2012

Dr. Biaya Program W-1………………………………..Rp, 63.000.000,- (Lap Aktivitas)

Dr. Aset Tetap Terikat Temporer Peralatan ……… Rp.27.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Dr. Kas Terikat Temporer – Dana Program W-1…Rp. 10.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Uang Muka Kegiatan – Program W-1…………………………Rp.100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Tanggal 30 September 2012 dengan berakhirnya Program Kerjasama, LSM Indonesia mencatat atas sisa dana kegiatan dan Peralatan yang diperoleh dari Dana Terikat tersebut diatas sbb :

Dr. Aset Bersih Yang Berakhir Pembatasannya-Program W-1 Rp. 37.000.000 (Lap Aktivitas)

Kr. Kas Terikat Temporer – Dana Program W-1…………………………Rp.10.000.000 (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Aset Tetap Terikat Temporer – Peralatan ……………………………..Rp.27.000.000 (Laporan Posisi Keuangan)

* Untuk mencatat Beban Program W-1 atas penyerahan sisa dana kegiatan Rp. 10 jt dan Peralatan sebesar Rp. 27 Jt kepada LSM Indonesia

Dr. Kas Tidak Terikat …….Rp. 10.000.000,0 (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Aset Bersih Yang Berakhir Pembatasannya….Rp.10.000.000,- (Lap Aktivitas)

* Untuk mengakui penerimaan sisa dana kegiatan oleh lembaga dari Program W-1

Dr. Aset Tetap Tidak Terikat ……..Rp.27.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Pemenuhan pembatasan pemerolehan peralatan ….Rp.27.000.000,- (Lap Aktivitas)

* Untuk mengakui penerimaan Peralatan Program W-1 oleh lembaga

Note : Laporan Posisi Keuangan = Neraca ; Laporan Aktivitas = Laporan Laba Rugi Komprehensif

Jika ada kekeliruan, mohon koreksinya ya……!

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Contoh Sistem Penerimaan Keuangan Pada Organisasi Nirlaba

Penerimaan Keuangan adalah Aliran Masuk Uang baik tunai maupun melalui transfer bank. Setiap penerimaan uang tunai harus segera disetorkan kedalam rekening bank milik organisasi pada hari kerja berikutnya.

Sumber Dana

Sumber-sumber dana Organisasi Nirlaba dapat bersumber dari internal maupun eksternal/pihak ketiga yang antara lain:

- Sumbangan Pengurus dan sumbangan karyawan.

- Sumbangan Perorangan, penerimaan ini biasanya disebut sumbangan masyarakat

– Sumbangan Non Perorangan seperti lembaga swasta (Dana CSR, sumbangan untuk bencana alam, dana kerjasama dan lainnya) dan pemerintah.

– Fundraising, contoh sumber ini adalah penjualan buku, penjualan suvenir, dan lain-lain

– Fee yang diterima dari pihak ketiga atas pengiriman anggota/pengurus sebagai narasumber

– Lainnya seperti Bunga Bank, Penjualan Aset Tetap dan lain-lain.

2. Transaksi Perbankan

– Setiap penerimaan dana kerjasama dari pihak donor yang bersifat mengikat melalui perbankan yang masing-masing dibuatkan Rekening Koran/Giro, kecuali disebutkan lain didalam perjanjian.

Hal ini bertujuan untuk :

a. memudahkan didalam memonitor Dana Kerjasama (Dana Terikat) tersebut telah diimplementasikan melalui kegiatan pada proposal yang telah disepakati.

b. memudahkan didalam mempertanggungjawabkan dana tersebut ketika dilakukan pemeriksaan.

c. Memudahkan didalam pengujian silang antara realisasi anggaran dengan saldo/sisa dana anggaran, misalnya berdasarkan laporan realisasi anggaran, dana tersedia adalah Rp. 50.000.000, maka dengan pemisahan rekening tersebut kita dapat dengan mudah menguji silang dengan rekening koran yang telah dipisah. Coba bayangkan jika dana tersebut dicampur dengan dana lain dalam satu rekening????

– Penerimaan dana lainnya/Dana tidak terikat dibuatkan rekening lainnya yang terpisah dari Rekening Dana Terikat.

bersambung….

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pajak Penghasilan ( PPh 21 ) Honor Dokter yang diterima berkesinambungan.

Pajak penghasilan bagi dokter yang menerima penghasilan dari pemberi kerja dan bersifat berkesinambung memiliki ketentuan sebagai berikut:

Apabila penghasilan tersebut diberikan karena pekerjaan atau jasanya bersifat berkesinambungan baik berdasarkan kontrak atau kenyataan sebenarnya, maka tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a diterapkan atas jumlah kumulatifnya. (sumber : http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-bagi-dokter ), contoh :

  1. Misal Dokter A (swasta ataupun PNS/TNI/POLRI) menerima honorarium pada bulan Maret 2009 sebesar Rp30.000.000. dari Rumah sakit Z, PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi kerja/pemberi penghasilan : 5% x (50% x Rp30.000.000,-) = Rp750.000.-,Dokter A wajib diberikan bukti potong PPh Pasal 21.
  2. Misalnya di bulan April 2009 Dokter A juga mendapat honorarium sebesar Rp80.000.000,- dari Rumah Sakit Z (bulan Maret 2009 telah menerima Rp30.000.000,-), sehingga jumlah kumulatifnya menjadi Rp30.000.000,- + Rp80.000.000,- = Rp110.000.000,-
    Dasar Pemotongan PPh Pasal 21 dari jumlah kumulatif tersebut adalah 50% x Rp110.000.000,- = Rp55.000.000,- , sehingga PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh Rumah Sakit Z adalah :
    5% x Rp50.000.000 = Rp2.500.000,-
    15% x Rp5.000.000 = Rp 750.000,- (+)
    Total Rp3.250.000,-
    Karena bulan Maret telah dipotong Rp750.000,-, maka bulan April PPh yang harus dipotong Rp3.250.000 – Rp750.000 = Rp2.500.000
  3. Jumlah Penghasilan adalah Jumlah penghasilan bruto bagi Dokter yang melakukan praktik di rumah sakit dan/atau klinik adalah sebesar jasa Dokter yang dibayar oleh pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit dan/atau klinik.
  4. Misal untuk bulan-bulan selanjutnya, dokter tersebut mendapat honor seperti tabel dibawah ini :

Pada Bulan Maret tersebut diatas, Rumah Sakit menerima pembayaran dari pasien atas jasa medis (Honor) dokter sebesar Rp. 30.000.000,-. Atas penerimaan pasien tersebut, Rumah Sakit mendapat sharing/bagi hasil sebesar 20% atau sebesar Rp.6.000.000,- dan dokter 80% atau sebesar Rp. 24.000.000,-
a. Atas Penerimaan tersebut Jurnal yang dilakukan oleh Rumah Sakit adalah

Dr. Kas – Neraca Rp. 30.000.000,-

Kr. Pendapatan Jasa Medis – LR Rp. 30.000.000,-

b. Untuk mencatat penerimaan dari Pasien atas Jasa Medis Dokter bulan Maret.

Dr. Biaya Jasa Medis Dokter -LR Rp. 24.000.000,-

Kr. Hutang Jasa Medis – NR Rp. 24.000.000,-

c, untuk mencatat pemotongan pph 21 Jasa Medis Dokter bulan maret sebesar :

5% x (50% x 30.000.000,-) = Rp. 750.000,-

Dr. Utang Jasa Medis – NR Dr. 750.000,-

Kr. Utang PPh 21 – NR Kr. 750.000,-

* Untuk mencatat potongan PPh 21 atas honor Dokter yang terhutang untuk bulan maret,lihat poin no.1 , dasar pemotongan adalah penghasilan bruto sebelum dipotong biaya-biaya (sebelum dipotong bagi hasil untuk rumah sakit)

d. untuk mencatat pembayaran Utang Jasa Medis Dokter

Dr. Utang Jasa Medis Dokter Rp. 23.250.000
Kr. Bank Rp. 23.250.000

e. untuk mencatat penyetoran/pembayaran PPh 21
Dr. Utang PPh 21 Rp. 750.000,-
Kr. Bank Rp. 750.000,-

.PENCATATAN BULAN APRIL OLEH RUMAH SAKIT

Dr. Kas – Neraca Rp. 80.000.000,-

Kr. Pendapatan Jasa Medis – LR Rp. 80.000.000,-

Untuk mencatat penerimaan dari Pasien atas Jasa Medis Dokter bulan April.

Dr. Biaya Jasa Medis Dokter -LR Rp. 64.000.000,-

Kr. Hutang Jasa Medis – NR Rp. 64.000.000,-

untuk mencatat pembagian Jasa Medis Dokter bulan April sebesar 80%:

80% x 80.000.000,- = Rp. 64.000.000,-

Dr. Utang Jasa Medis – NR Dr. 2.500.000,-

Kr. Utang PPh 21 – NR Kr. 2.500.000,-

Untuk mencatat potongan PPh 21 atas honor Dokter yang terhutang untuk bulan April ,lihat poin no.2 , dasar pemotongan adalah akumulasi penghasilan bruto sebelum dipotong biaya2x (sebelum dipotong bagi hasil untuk rumah sakit) yaitu 30 jt +80 jt = 110 jt.

klik disini untuk download file :

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Also available in : English

Pencatatan, Pengakuan dan Kerugian Piutang

03 AKUNTANSI PIUTANG (12)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pendapatan Operasional dan Harga Pokok Pelayanan

Berdasarkan contoh Laporan Keuangan Klinik, contoh Laporan Pendapatan dan Harga Pokok Pelayanan Pasien per 31 Oktober 2007 adalah sebagai berikut :

Pendapatan Operasional

Harga Pokok Pelayanan Pasien


Copyright protected by Digiprove © 2010 Varin Kaspi

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

1. Contoh Kasus : Pengakuan Pendapatan Penerbit Buku

Pada Tahun 20X1 penerbit Elok menjual buku dengan sistem royalty pada penerbit Indah. Roalti disetujui 10% dari hasil penjualan dan akan dibayarkan 2x setahun, masing2x 31 Maret untuk penjualan Juli-Desember dan 30 September untuk periode Januari-Juni. Penerbit Elok membuat catatan sementara untuk penyusunan laporan keuangan 31 Desember 20X2 sbb :

– Piutang Pendapatan Juli-Desember 20X1 Rp. 180.000

– Penerimaan Kas atas royalty 31 Maret 20X2 Rp. 200.000 dan 30 September 20X2 Rp.260.000

– Buku terjual Juli-Desember 20X2 Rp.2700.000

Pada Laporan Rugi Laba PT Elok akan dilaporkan pendapatan Royalty sebesar ???

Jawab :

Penghasilan dari Royalties yang harus dilaporkan dalam tahun 20X2 adalah semua penghasilan yang dapat diperkirakan dan dapat dipastikan dala tahun tersebut. Hal ini dapat dihitung sbb:

Royalties diterima Maret 20X2 Rp200.000 a
Royalties diakui (terutang) 20X1 Rp (180.000) b
Royalties yang harus diakui di tahun 20X2 dari Penjualan Juli-Des 20X1 Rp20.000 c=a+b
Royalti diterima September 20X2 Rp260.000 d
Royalti diperkirakan Juli-Desember 20X2 = 10% x Rp. 2.700.000 Rp270.000 e
Jumlah Royalti tahun 20X2 Rp550.000 f= c+d+e

enlightened

Copyright protected by Digiprove © 2010 Varin Kaspi

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Alur Pecatatan Transaksi Dana Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)

Dibawah ini merupakan alur kegiatan Jaminan Kesehatan Masyarakat


Transaction’s flow of Jamkesmas

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pencatatan Penjualan Motor Secara Kredit Oleh Authorized Dealer Yamaha

Dealer Yamaha didalam penjualan motornya dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

1. secara Tunai

2. Secara Kredit

Dalam hal ini kita akan membahas pencatatan dengan penjualan secara kredit dengan ilustrasi seperti gambar dibawah ini :


Flow of Yamaha Motor Sales – Credit Prosedure

Contoh :
Dijual Sebuah sepeda motor Mio secara kredit dengan Harga Rp. 13.500.000 belum termasuk ppn dengan data sbb :
1 tgl 5/7 Dibayar uang Muka oleh konsumen Rp. 750.000
2 tgl 7/9 Aplikasi konsumen disetujui oleh leasing
3 tgl 8/9 Dikirim motor ke alamat konsumen
4 tgl 10/9 Dibuat tagihan ke Leasing setelah menerima Faktur dari Yamaha
5 tgl 11/10 Dibayar oleh Leasing atas tagihan
Pencatatan dari data tersebut diatas
1. tgl 5/7
Dr. Kas 750.000
Kr. Uang Muka 750.000
* untuk mencatat penerimaan uang muka konsumen
2. Tidak Dijurnal
3. Dr. Piutang Sementara 12.750.000
Dr. Uang Muka 750.000
Kr. Penjualan Motor 13.500.000
* untuk mengakui pejualan motor atas pengiriman motor kekonsumen
Dr. Harga Pokok Persediaan 8.500.000
Kr. Persediaan 8.500.000
* untuk mengurangi persediaan karena telah dijual
4. Dr. Piutang Leasing 14.100.000
Kr. Piutang Sementara 12.750.000
Kr. PPn Kelauaran 1.350.000

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pendapatan Rumah Sakit berdasarkan sifatnya

Pendapatan rumah sakit berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi :

1. Sewa ruangan

2. Makanan Untuk Pasien

3. Sewa Alat

4. Alat Habis Pakai

5. Obat

6. Jasa Sarana (termasuk bagi hasil jasa visitasi dan tindakan medis)

7. Pelayanan Laboratorium ( Khusus pemeriksaan Laboratorium untuk pasien Rawat Inap)

8. Administrasi

9. Eboser ( Kartu Pasien Rawat Inap)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Accounting Plantation

English version :

Accounting Salam Pak …
hehehheee … … …
Mr. .. can ask for information??
I would like to ask Mr. .. Accounting Treatment of How to Plant Not Producing (oil).
Especially for the journal … (at the age of the plant has not produced crops can produce samapai).
I do not understand …
Thanks a lot sir … …

Try Answer:

Mba ‘Yuyun sweet, I try to combine the answers mas uziek and Ardi August-rush

1. if we refer PSAK 32 on forestry reply mentioned that the plants have not produced “HTI (Hutan Tanaman Industri) in development”. For oil palm plantations could be made an account “for Palm / Plantation not generate” (account name to be changed please inform the object for the account, if by ardi “Not Making Plant”) which, according to relatives who ardi plants under 3 years of age (< 3 years)

2. Account “Plants that have not produced” on the balance sheet is presented refer to paragraph 32 PSAK 21 “… ..that is” HTI in development “. This account is presented in the balance after s Assets andFixed Assetsebelum. Maybe this was meant mas ardi “” non-current assets “account which is in non-current assets and the order prior to Fixed Assets.

3. For such biaya2x mas ardi wrote noted that:

“Yg costs associated with maintenance and development includes (cost of land clearing, seed purchase, the cost of pre-nursery, primary nursery costs, maintenance costs persemaiaa, planting costs and all costs associated with the initial land pembuakaan in the balance sheet” assets are not smoothly “with the postal account” plants do not produce “. So if there is above dijurnal biaya2x

Dr. Plants Not Producing xxx

Kr. Cash / Bank / Debt xxx

4. If you are ready to cut the plants have not produced in the reclassification to “Crop Production Ready” with the journal

Dr. Crop Production Ready – Palm xxxx

Kr. Plants do not produce xxxx

5. Crop production is then ready to be depreciated (amortized). The method for calculating the amortization of the value can be straight-line method or methods of production units as described in PSAK wrote 32 paragraphs 16.c

Journal:

Dr. Cost – Amortization xxx

Kr. Accumulated amortization xxx

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pencatatan Uang Muka Pasien / Patient Deposite Journal

Untuk lebih jelasnya mengenai alur pencatatan Uang Muka Pasien dapat dilihat dibawah ini


Alur Uang Muka Pasien

Keterangan :

Start : Pasien mendaftar : Baik Pasien baru maupun pasien lama. Khusus pasien baru maka bagian administrasi membuatkan kartu pasien.Contoh : Biaya Administrasi Rp. 10.000,-

Jurnal untuk pasien baru :

Dr. Piutang Sementara Rp. 10.000

Kr. Pendapatan Administrasi Rp.10.000


1. Pasien ke kasir untuk membayar uang muka rawat inap dan biaya pendaftaran bagi pasien barusesuai dengan ketentuan masing2x rumah sakit. Contoh : Pasien minimal membayar Rp. 500.000,-

pada saat ini sistem mencatat :

Dr. Kas / Electronic Payment Rp. 500.000,-

Kr. Uang Muka Pasien Rp. 500.000,-

2. Pasien membawa bukti pembayaran ke bagian administrasi untuk mendapatkan ruangan perawatan inap. (No Jurnal)

3. Masa Perawatan. Selama masa ini setiap manfaat yang diberikan oleh Rumah Sakit di catat sebagai pendapatan.

Conoh : Pemberian obat senilai Rp. 225.000,-

Sewa Kamar selama 2 hari @ Rp.100.000 – = Rp. 200.000

Jasa Dokter : Rp. 175.000,-

Jurnal pada saat masing2x manfaat diberikan

Dr. Piutang Sementara Rp.600.000,-

Kr. Pendapatan Rp. 600.000,-

4. Setelah selesai perawatan dan dinyatakan untuk pulang, maka pasien ke bagian administrasi untuk menyelesaikan masalah administrasi dan melapor akan pulang.

5. Setelah melapor untuk pulang, pasien meyelesaikan kekurangan pembayaran selama perawatan dengan perhitunga sebagai berikut :

administrasi 10.000
Penjualan Obat 225.000
Sewa Kamar 200.000
Jasa Dokter 175.000
610.000
Uang Muka (500.000)
Kekurangan 110.000

Maka Jurnal Pelunasan :

Jika dibayar Tunai :

Dr. Uang Muka Rp. 500.000,-

Kr. Piutang Sementara Rp. 500.000,-

* untuk mengakui uang muka sebagai pelunasan piutang oleh pasien

Dr. Kas Rp. 110.000

Kr. Piutang Sementara Rp. 110.000

* untuk mencatat sisa total biaya perawatan setelah dikurangi uang muka

6. Pasien Pulang (Finished)

Copyright protected by Digiprove © 2010 Varin Kaspi

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)