Arsip Kategori: 1. Akuntansi

Tulisan Akuntansiku

Akuntansi Aset Tetap-Penghentian dan Pengungkapan

PENGHENTIAN

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat:

  • dilepaskan; atau
  • tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya.
  • Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap harus dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya (kecuali PSAK 30 mengharuskan perlakuan yang berbeda dalam hal transaksi jual dan sewabalik).
  • Laba tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan.

Jika suatu entitas mengakui biaya perolehan dari penggantian sebagian aset tetap dalam jumlah tercatat aset tetap tersebut, maka selanjutnya entitas tersebut juga menghentikan pengakuan jumlah tercatat dari bagian yang digantikan tanpa memperhatikan apakah bagian yang digantikan telah disusutkan secara terpisah.

  • Jika tidak praktis untuk menentukan jumlah tercatat dari bagian yang digantikan, entitas dapat menggunakan biaya perolehan dari penggantian tersebut sebagai indikasi biaya perolehan dari bagian yang digantikan pada saat diperoleh atau dikonstruksi.
  • Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap harus ditentukan sebesar perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan, jika ada, dan jumlah tercatat dari aset tersebut.

Piutang atas pelepasan aset tetap diakui pada saat awal sebesar nilai wajarnya. Jika pembayaran ditangguhkan, maka perhitungan yang akan diterima diakui pada saat awal sebesar nilai tunainya. Perbedaan antara jumlah nominal piutang dan nilai tunainya diakui sebagai pendapatan bunga sesuai dengan PSAK23 yang mencerminkan imbalan efektif atas piutang

PENGUNGKAPAN

Pengungkapan untuk setiap kelompok aset tetap:

  • dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto;
  • metode penyusutan yang digunakan;
  • umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
  • jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (dijumlahkan dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan
  • rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
    • penambahan;
    • aset yang diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalum kelompok yang akan dilepaskan yang diklasjfikasikan sebagai tersedia untuk dijual sesuai dengan paragraph 45 atau pelepasan lainnya;
    • akuisisi melalui penggabungan usaha;
  • peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai par 31, 39, dan 40 serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau dijurnal balik secara langsung pada ekuitas sesuai PSAK 48;
  • rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi sesuai PSAK 48;
  • penyusutan;
  • selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang pelaporan dari entitas pelapor; dan
  • perubahan lain.

Laporan keuangan juga diharuskan mengungkapkan:

  • keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan aset tetap yang dijaminkan untuk utang;
  • jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap yang sedang dalam pembangunan;
  • jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan aset tetap; dan
  • jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan yang dimasukkan dalam laporan laba rugi, jika tidak diungkapkan secara terpisah pada laporan laba rugi
  • Jika aset tetap disajikan pada jumlah revaluasian, hal berikut harus diungkapkan:
    • tanggal efektif revaluasi;
    • apakah penilai independen dilibatkan;
    • metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam mengestimasi nilai wajar aset; penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan secara langsung berdasar harga yang dapat diobservasi (observable prices) dalam suatu pasar aktif atau transaksi pasar terakhir yang wajar atau diestimasi menggunakan teknik penilaian lainnya;
    • untuk setiap kelompok aset tetap, jumlah tercatat aset seandainya aset tersebut dicatat dengan model biaya; dan
    • Surplus revaluasi, yang menunjukan perubahan selama periodedan pembatas-pembatasan distribusi kepada pemegang STOM.

     

Informasi berikut relevan dengan kebutuhan pengguna laporan keuangan:

  • jumlah tercatat aset tetap yang tidak dipakai sementara;
  • jumlah tercatat bruto dari setiap aset tetap yang telah disusutkan penuh dan masih digunakan;
  • jumlah tercatat aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif dan tidak diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual; dan
  • jika model biaya digunakan, nilai wajar aset tetap apabila berbeda secara material dari jumlah tercatat.
    Oleh karena itu, entitas dianjurkan mengungkapkan jumlah-jumlah tersebut.

KETENTUAN TRANSISI
Entitas yang sebelum penerapan Pernyataan ini pernah melakukan revaluasi aset tetap dan masih memiliki saldo selisih nilai revaluasi aset tetap, maka pada saat penerapan pertama kali Pernyataan ini harus mereklasifikasi seluruh saldo selisih nilai revaluasi aset tetap tersebut ke saldo laba. Hal tersebut harus diungkapkan.

BUNGA PINJAMAN
PSAK 26 – 1997

  • Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan, konstruksi atau produksi suatu Aktiva Tertentu harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan Aktiva Tertentu tersebut.
  • Apabila pinjaman hanya digunakan untuk memperoleh suatu Aktiva Tertentu, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah seluruh biaya pinjaman yang timbul selama peminjaman dana tersebut dikurangi dengan pendapatan bunga yang diperoleh dari investasi sementara atas dana hasil pinjaman yang belum digunakan.
  • Kapitalisasi biaya pinjaman sebagai bagian dari biaya perolehan suatu aktiva dimulai apabila:
    • Pengeluaran untuk aktiva tersebut telah mulai dilakukan.
    • Biaya pinjaman sedang terjadi.
    • Aktivitas yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pembangunan atau memproduksi Aktiva Tertentu sedang berlangsung.

     

  • Kapitalisasi biaya pinjaman harus dihentikan apabila dalam suatu periode yang cukup lama perusahaan menangguhkan atau menunda aktivitas perolehan, pembangunan ataupun produksi.
  • Kapitalisasi biaya pinjaman harus dihentikan apabila dalam suatu periode yang cukup lama perusahaan menangguhkan atau menunda aktivitas perolehan, pembangunan ataupun produksi.
  • Kapitalisasi biaya pinjaman harus diakhiri apabila aktivitas untuk memperoleh, membangun atau memproduksi Aktiva Tertentu sesuai degan tujuannya secara substansial telah selesai.
  • Apabila pembangunan atau konstruksi suatu aktiva dapat diselesaikan perbagian dimana bagian yang telah selesai dapat segera digunakan sementara bagian lainnya masih dalam penyelesaian, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah untuk bagian yang belum selesai saja.
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Akuntansi Aset Tetap-Perlakuan Setelah Pengakuan Awal ( PSAK 16 – 2007 )

Suatu entitas harus memilih salah satu kebijakan akuntansi berikut:
• model biaya (cost model) atau
• model revaluasi (revaluation model)
• Menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama.

Model Biaya

Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset.

Model Revaluasi

  1. Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi.
  2. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

Nilai wajar

  • Pabrik, peralatan, tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian oleh penilai yang memiliki kualifikasi profesional berdasarkan bukti pasar.
  • Jika tidak ada nilai pasar, nilai wajar diestimasi dengan menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang telah disusutkan.

Frekuensi revaluasi tergantung perubahan nilai wajar aset tetap yang direvaluasi

  • Jika fluktuatif, revaluasi dilakukan tahunan.
  • Jika tidak fluktuatif sehingga perbedaan tidak signifikan maka dapat dilakukan tiga atau lima tahunan.

Apabila suatu aset tetap direvaluasi, akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini:

  • disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto dan aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian. Metode ini sering digunakan apabila aset direvaluasi dengan cara memberi indeks untuk menentukan biaya pengganti yang telah disusutkan.
  • dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dan aset dan jumlah tercatat neto setelah dieliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan.

Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama harus direvaluasi (secara bersamaan).

  • Hal ini untuk menghindari revaluasi aset secara selektif dan bercampurnya biaya perolehan dan nilai lainnya pada saat yang berbeda-beda.
  • Namun, suatu kelompok aset dapat direvaluasi secara bergantian (rolling basis) sepanjang revaluasi dari kelompok aset tersebut dapat diselesaikan secara lengkap dalam waktu yang singkat dan sepanjang revaluasi dimutakhirkan.

Suatu kelompok aset tetap adalah pengelompokkan aset yang memiliki sifat dan kegunaan yang serupa dalam operasi normal entitas. Berikut contoh dari kelompok aset yang terpisah:

  • tanah
  • tanah dan bangunan
  • mesin
  • kapal
  • pesawat udara
  • kendaraan bermotor
  • perabotan; dan
  • peralatan kantor

Kenaikan hasil revaluasi diakui sebagai:
• keuntungan di laporan laba rugi, maksimal sebesar kerugian penurunan nilai yang sebelumnya pernah diakui di laporan laba rugi, jika ada.
• Kemudian nilai sisanya setelah porsi yang diakui dalam laporan laba rugi, kenaikan tersebut langsung diakui di ekuitas.

Dalam terjadi penurunan nilai hasi revaluasi:

  • Diakui dengan mendebit ekuitas pada bagian surplus revaluasi aset tersebut, jika ada, maksimal sebesar saldo surplus revaluasi.
  • Sisanya setelah dinilai yang didebit ke ekuitas, dibebankan ke laporan laba rugi.
  • Tidak diperkenankan adanya negative reserve untuk aset tetap dalam ekuitas.

Surplus revaluasi aset tetap yang disajikan dalam ekuitas dapat dipindahkan ke saldo laba :

  • pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya atau pelepasan, dengan memindahkan seluruh saldo surplus ke laba ditahan, atau.
  • dapat dipindahkan secara periodik ke laba ditahan yaitu sebesar perbedaan antara jumlah penyusutan berdasarkan nilai revaluasi dengan jumlah penyusutan berdasarkan model biaya.
  • Pemindahan surplus revaluasi ke saldo laba tidak dilakukan melalui laporan laba rugi.

Jika entitas mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran aset tetap maka perubahan tersebut berlaku prospektif. Berlaku juga untuk ketentuan transisi pada saat tanggal pertama kali penerapan standar ini.

Perlakuan aset tetap tersedia dijual:

  • Diakui pada saat penghentian operasi
  • Diukur sebesar nilai yang lebih rendah dari jumlah tercatat dibandingkan dengan nilai wajar setelah dikurangi biaya-biaya penjualan aset tersebut.
  • Disajikan sebagai aset tersedia untuk dijual, jika pemulihan jumlah tercatat melalui transaksi penjualan
  • Diungkap dalam laporan keuangan dalam rangka evaluasi dampak penghentian operasi dan pelepasan aset (aset tidak lancar)

Penyusutan

  • Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan cukup signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan secara terpisah.
  • Pengelompokan bagian aset tetap dapat dilakukan berdasarkan pada kesamaan umur manfaat dan metode penyusutan sehingga dapat disatukan dalam menghitung beban penyusutan.
  • Pengelompokan bagian kepada bagian yang lebih rinci diperkenankan.
  • Beban penyusutan setiap periode diakui dalam laporan laba rugi kecuali jika beban tersebut dimasukan (dikapitalisasi) dalam jumlah tercatat aset lainnya.
  • Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset dialokasikan secara sistematis sepanjang umur manfaatnya.
  • Nilai residu dan umur manfaat setiap aset tetap harus di-review minimum setiap akhir tahun buku dan apabila ternyata hasil review berbeda dengan estimasi sebelumnya maka perbedaan tersebut harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi.
  • Penyusutan diakui walaupun nilai wajar aset melebihi jumlah tercatatnya, sepanjang nilai residu aset tidak melebihi jumlah tercatatnya.
  • Perbaikan dan pemeliharaan aset tidak meniadakan keharusan untuk menyusutkan aset.
  • Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset adalah jumlah tercatatnya (baik mengikuti model biaya maupun model revaluasi) dikurangi dengan nilai residu aset yang bersangkutan.
  • Beban penyusutan nol pada saat nilai residu sama atau lebih besar dari jumlah tercatat. Kemudian penyusutan dihitung kembali pada saat nilai residu menurun hingga lebih kecil dari jumlah tercatatnya.
  • Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap untuk digunakan, yaitu pada saat aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen.

Penyusutan dihentikan lebih awal ketika:

  • aset tersebut diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual atau aset tersebut termasuk dalam kelompok aset yang tidak dipergunakan lagi dan diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual; dan
  • aset tersebut dihentikan pengakuannya seperti yang diatur dalam PSAK par 69.

Penyusutan tidak berhenti pada saat aset tersebut tidak dipergunakan atau dihentikan penggunaannya, kecuali apabila telah habis disusutkan. Namun, apabila metode penyusutan yang digunakan adalah usage method (seperti unit of production method) maka beban penyusutan menjadi nol bila tidak ada produksi.

Faktor-faktor dalam menentukan umur manfaat:

  • Prakiraan daya pakai aset dengan merujuk kapasitas atau kemampuan fisik aset dalam menghasilkan sesuatu
  • Prakiraan tingkat keausan fisik, yang tergantung pada faktor pengoperasian aset tersebut, seperti pengaturan shift penggunaan aset dan program pemeliharaan dan perawatan, serta perawatan dan pemeliharaan pada saat aset tidak digunakan (idle)
  • Keusangan teknis dan keusangan komersial yang diakibatkan perubahan atau peningkatan produksi, atau karena perubahan permintaan pasar atas produk atau jasa yang dihasilkan, dan
  • Pembatasan penggunaan aset karena aspek hukum atau peraturan tertentu, seperti berakhirnya penggunaan sehubungan dengan sewa

Umur manfaat aset ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan entitas. Kebijakan manajemen aset suatu entitas dapat meliputi pelepasan aset setelah waktu tertentu aset digunakan atau setelah bagian tertentu dari manfaat suatu aset dikonsumsi. Karena itu umur manfaat dari suatu aset dapat lebih pendek dari umur ekonomi dari aset tersebut.

Tanah dan bangunan merupakan aset yang berbeda dan harus diperlakukan sebagai aset yang terpisah, meskipun diperoleh sekaligus. Bangunan memiliki umur manfaat yang terbatas, oleh karenanya harus disusutkan. Peningkatan nilai tanah dimana diatasnya didirikan bangunan tidak memengaruhi penentuan jumlah yang dapat disusutkan dari bangunan tersebut. Tanah yang diperoleh dengan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan atau lainnya diperlakukan sesuai dengan PSAK 47: Akuntansi Tanah. Jika biaya perolehan tanah yang di dalamnya termasuk biaya untuk membongkar, memindahkan dan memugar, dan manfaat yang diperoleh dari pembongkaran, pemindahan dan pemugaran tersebut terbatas, maka biaya tersebut harus disusutkan selama periode manfaat yang diperolehnya.

Metode Penyusutan
Metode penyusutan harus mencerminkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis masa depan dari aset oleh entitas.
Metode penyusutan harus di-review minimum setiap akhir tahun buku dan, apabila terjadi perubahan yang signifikan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut, maka metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan tersebut harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai dengan PSAK 25.

Berikut adalah beberapa Metode penyusutan

  • Garis lurus
  • Saldo menurun
  • Jumlah unit

Diterapkan secara konsisten dari periode ke periode kecuali ada perubahan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis. Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mengalami penurunan nilai, entitas menerapkan PSAK 48: Penurunan Nilai Aset. Pernyataan tersebut menjelaskan bagaimana entitas me-review jumlah tercatat asetnya, bagaimana menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset dan kapan mengakui atau membalik rugi penurunan nilai
masa depan aset tersebut.

Kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan harus dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat kompensasi diakui menjadi piutang. Penurunan nilai atau kerugian aset tetap, klaim atas atau pembayaran kompensasi dari pihak ketiga dan pembelian atau konstruksi selanjutnya atas penggantian aset adalah peristiwa ekonomi yang terpisah dan dicatat secara terpisah dengan ketentuan sebagai berikut:

  • penurunan nilai aset tetap diakui sesuai dengan PSAK 48;
  • penghentian pengakuan aset tetap yang usang atau dilepas ditentukan sesuai dengan Pernyataan ini;
  • kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan harus dimasukkan dalam penentuan laba atau rugi pada saat kompensasi diakui pada saat menjadi piutang; dan
  • biaya perolehan aset tetap yang diperbaiki, dibeli atau dikonstruksi sebagai penggantian ditentukan sesuai dengan Pernyataan ini.

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Akuntansi Aset Tetap-Pengakuan Awal ( PSAK 16 – 2007 )

Substansi revisi PSAK 16 – 2007 :

  • Terdapat beberapa perlakuan biaya dan pengakuan yang tidak diatur dalam PSAK sebelumnya.
  • Dalam pertukaran aktiva tetap di edisi revisi ini tidak membedakan apakah pertukaran tersebut sejenis atau tidak serta tidak menyebutkan apakah ada keuntungan atau tidak.
  • Diperkenankannya revaluasi aktiva tetap dimana pada PSAK sebelumnya revalusi tidak diperkenankan.

Tujuan PSAK ini adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, agar pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi mengenai investasi entitas di aset tetap, dan perubahan dalam investasi tersebut.
Isu utama dalam akuntansi aset tetap adalah:

  1. Pengakuan aset,
  2. Penentuan jumlah tercatat,
  3. Pembebanan penyusutan, dan
  4. Rugi penurunan nilai atas aset tetap.

Ruang lingkup penerapan PSAK 16:

  • Diterapkan untuk akuntansi aset tetap
  • Tidak berlaku untuk hak penambangan dan reservasi tambang seperti minyak, gas alam dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui
  • Penyusutan dalam aset tetap sewaan pembiayaan
  • Properti investasi yang sedang dikonstruksi atau kembangkan

Beberapa definisi yang berkaitan :

  • Nilai khusus entitas (entity specific value) adalahnilai kini dari arus kas suatu entitas yang diharapkan timbul dari penggunaan aset dan dari pelepasannya pada akhir umur manfaat atau yang diharapkan terjadi ketika penyelesaian kewajiban.
  • Jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) adalah nilai yang lebih tinggi antara harga jual neto dan nilai pakai (value in use) suatu aset.
  • Aset tetap adalah aset berwujud yang :
    – Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan, atau untuk tujuan administrasi dan
    – Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode
  • Jumlah tercatat (carrying amount) adalah nilai yang disajikan dalam neraca setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.
  • Umur manfaat (useful life) adalah:
    • suatu periode di mana aset diharapkan akan digunakan oleh entitas; atau
    • jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset tersebut
      oleh entitas.

PENGAKUAN

Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:

  • besar kemungkinan manfaat ekonomi di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas; dan
  • biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
  • Beberapa aset berikut dapat diakui sebagai aset tetap, jika memenuhi persyaratan pengakuan:
    • Suku cadang dan peralatan pemeliharaan
    • Aset yang digunakan untuk alasan keamanan atau lingkungan
    • Penggantian secara periodik komponen-komponen tertentu dalam aset tetap
    • Biaya inspeksi yang nilainya signifikan

     

PENGUKURAN AWAL

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan.
Komponen biaya perolehan
Harga perolehan
Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
Estimasi awal biaya pembongkaran, pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset. (PSAK 14/PSAK 57)

Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung kedalam biaya perolehan:

  • Biaya imbalan kerja
  • Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
  • Biaya handling dan penyerahan awal
  • Biaya perakitan dan instalasi
  • Biaya pengujian aset, net penjualan dari produk yang dihasilkan selama masa pengujian
  • Komisi profesional

Biaya-biaya yang bukan biaya perolehan aset tetap
Biaya pembukaan fasilitas baru
Biaya pengenalan produk baru (termasuk iklan dan aktivitas promosi)
Biaya penyelenggaraan bisnis dilokasi baru atau kelompok pelanggan baru (termasuk biaya pelatihan staf)
Administrasi dan biaya overhead
Kerugian awal operasi, seperti ketika permintaan rendah
Biaya relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh operasi entitas

Pengakuan terhadap biaya-biaya dalam jumlah tercatat suatu aset tetap dihentikan ketika aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen. Sehingga, biaya pemakaian dan pengembangan aset tidak dimasukan kedalam jumlah tercatat aset tersebut.

Biaya-biaya yang tidak dapat dikapitalisasi aset tetap :

  • Biaya-biaya yang terjadi ketika aset telah mampu beroperasi sebagaimana dimaksud manajemen namun belum dipakai atau masih rendah tingkat produksinya.
  • Biaya-biaya yang terjadi tetapi tidak dimaksudkan untuk membawa aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar setiap aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen. Contoh penghasilan beban dari lahan parkir yang harus langsung dibebankan ke P&L

Biaya perolehan aset tetap diakui setara nilai tunainya dan diakui pada saat terjadinya.
Perbedaan nilai tunai dengan pembayaran total akibat penangguhan pembayaran yang melampaui kredit normal diakui sebagai beban bunga selama periode kredit, kecuali dikapitalisasi sesuai PSAK 26.

Biaya perolehan aset tetap yang diperoleh melalui pertukaran diukur pada nilai wajar, kecuali:

  • transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
  • nilai wajar dari aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal.
  • Biaya perolehan diukur pada nilai tercatat aset yang diserahkan.

Penentuan adanya substansi komersial:

  • Konfigurasi (risiko, waktu, dan jumlah) arus kas aset yang diterima berbeda dari konfigurasi aset yang diserahkan, atau
  • Nilai khusus entitas dari kegiatan operasional entitas yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut berubah sebagai akibat dari pertukaran; dan
  • Selisih antara (a) dan (b) adalah relatif signifikan terhadap nilai wajar dari aset yang dipertukarkan.

Jika nilai wajar aset yang diterima atau diserahkan dapat ditentukan secara andal, maka digunakan nilai wajar yang lebih jelas.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kisi-kisi soal Akuntansi Manajemen-Untuk Peserta USAP


Akuntansi Manajemen-Untuk Peserta USAP

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Try Out CPA – AKUNTANSI PEMERINTAHAN DAN ORGANISASI NIRLABA (ESSAY)

[WpProQuiz 4] [WpProQuiz_toplist 4]

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Aplikasi Keuangan untuk Perusahaan Dagang Mikro menggunakan MS Excel

Akunting Pencinta Islam akan membuka kios minuman cappucino cincau yang diberi nama” E=MC2”. Untuk membuka cappucino cincau API mengeluarkan Modal sebesar Rp. 5.100.000 untuk membeli Peralatan, Perlengkapan dan Bahan-baku kepada yang terinci sebagai berikut :

no Keterangan Jml Rp
1. Gerobak Aluminium (Stand Booth) ukuran (120 x 60 x 170) cm 1 2.500.000
2. Blender Phillips 1 buah 1 350.000
3. Cup Sealer / Mesin Press + lid seal 1 1.150.000
7. Ice Box 1 buah ukuran 32 liter 1 180.000
4. Box Capuccino ukuran 3 Kg 1 20.000
5. Box Gula ukuran 3 Kg 1 20.000
6. Box Cincau ukuran 3 Kg 1 25.000
8. Water Jar 1 buah 1 35000
9. Sendok Capuccino 1 buah 1 10.000
10. Sendok Gula 1 buah 1 12.000
11. Sendok Cincau 1 buah 1 20.000
12. Pisau 1 buah 1 25.000
13. Parutan Cincau 1 buah 1 30.000
14. Pemecah es 1 buah 1 20.000
15. Ember air 1 buah 1 45.000
16. Kursi plastik 3 buah 3 150.00
17. Tempat susu 2 buah 2 30.000
4.622.000
II Bahan Baku
18. Cup ukuran 14 OZ 100 buah 100 40.000
19. Sedotan 200 buah 200 13.000
20. Kantong plastik kecil (pack) 1 5.000
21. Kantong plastik sedang (pack) 1 7.000
22. Bubuk capuccino (Kg) 2 150.000
23. Gula pasir (Kg) 2 27.000
24. Susu coklat (kaleng) 1 8.000
25. Susu putih (kaleng) 1 8.000
258.000
III Lain-lain
18 Spanduk 2 120.000
IV Kas outlet 100.000
Total : 5.100.000
1. Gerobak Aluminium (Stand Booth) ukuran (120 x 60 x 170) cm 1 2.500.000
2. Blender Phillips 1 buah 1 350.000
3. Cup Sealer / Mesin Press + lid seal 1 1.150.000
7. Ice Box 1 buah ukuran 32 liter 1 180.000
4. Box Capuccino ukuran 3 Kg 1 20.000
5. Box Gula ukuran 3 Kg 1 20.000
6. Box Cincau ukuran 3 Kg 1 25.000
8. Water Jar 1 buah 1 35.000
9. Sendok Capuccino 1 buah 1 10.000
10. Sendok Gula 1 buah 1 12.000
11. Sendok Cincau 1 buah 1 20.000
12. Pisau 1 buah 1 25.000
13. Parutan Cincau 1 buah 1 30.000
14. Pemecah es 1 buah 1 20.000
15. Ember air 1 buah 1 45.000
16. Kursi plastik 3 buah 3 150.000
17. Tempat susu 2 buah 2 30.000
4.622.000
II Bahan Baku
18. Cup ukuran 14 OZ 100 buah 100 40.000
19. Sedotan 200 buah 200 13.000
20. Kantong plastik kecil 1 pack 5.000
21. Kantong plastik sedang 1 pack 7.000
22. Bubuk capuccino 2 Kg 150.000
23. Gula pasir 2 Kg 27.000
24. Susu coklat 1 kaleng 8.000
25. Susu putih 1 kaleng 8.000
258.000
III Lain-lain
18 Spanduk 2 120.000
IV Kas outlet 100.000
Total : 5.100.000

Untuk mencatat transaksi tersebut diatas dictatat dengan cara sebagai berikut :

1. Pencatatan Modal. Pada Sheet “Menu” klik shortcut “Cash Book” seperti dibawah ini :

Maka anda akan dibawa ke sheet “Buku Kas”. Sheet ini digunakan untuk mencatat PENERIMAAN KAS yang bukan dari transaksi “Penjualan Tunai” dan PENGELUARAN KAS yang bukan dari transaksi “pembelian bahan baku dan bahan lainnya”. Karena penerimaan kas berasal dari Modal, bukan dari Penjualan, maka transaksi dicatat dengan menggunakan buku kas.

  1. No. : merupakan nomor urut transaksi
  2. Tgl : Diisi dengan tanggal transaksi yaitu 2 Mei 2013
  3. Memo : Diisi dengan keterangan transaksi, masukkan keterangan “Untuk mencatat modal sebesar Rp.5.100.000
  4. Dr : Diisi dengan jumlah rupiah, dalam hal ini adalah sebesar Rp 5.100.000,-
  5. Kr : Diisi secara otomatis sebesar kolom “Dr”
  6. Saldo : Saldo kas kecil
  7. Akun Dr : Pilih kode akun Dr yaitu 11111-Kas Kecil
  8. Akun Kr : Pilih kode akun untuk posisi kredit yaitu 30001 Modal

Setelah modal dicatat, selanjutnya adalah mencatat pembelian peralatan. Karena pembelian peralatan bukan transaksi pembelian bahan baku, maka pencatatan juga menggunakan Buku Kas seperti gambar dibawah ini dengan cara pengisian seperti pencatatan diatas dan jika sudah, klik kotak “Menu” dikanan atas tabel untuk kembali ke menu.

2. Pada Sheet “Menu” klik shortcut “Pembelian” untuk melakukan pencatatan atas pembelian Bahan Baku seperti dibawah ini :

A. PO. No : Diisi dengan nomor dokumen/surat pesanan jika menggunakan surat pesanan jika tidak boleh dikosongkan

B. Tanggal Transaksi : diisi dengantanggal pemesanan

C. Vendor : Diisi dengan Nama Pemasok. Diisi dengan meng-klik kolom vendor dan memilih Nama Pemasok, nama pemasok dapat dibuat di Sheet “MASTER SUPPLIER”. Karena daftar pemasok belum ada, berikut pembuatan Daftar pemasok di sheet “MASTER SUPPLIER”

Code :

1. Character pertama yaitu “S” untuk menunjukkan kelompok “Supplier”, jika ingin membuat data “Customer” maka Character pertamanya adalah “C”.

2. S/C Name diisi dengan nama Supplier (Pemasok) atau Customer.

3. S/C Ref Code adalah kode refferensi Supplier atau Customer yang nanti akan digunakan untuk menginput Pembelian. Kolom ini akan terisi otomatis.

4. Cust/Vendor adalah kolom keterngan bahwa Nama tersebut adalah “Vendor” atau pemasok. Kolom ini akan terisi otomatis. Jika Character pertama pada kolom Code diisi dengan “C” (lihat point 1), maka kolom ini akan terisi menjadi “Customer”.

5. Contact Person diisi dengan nama yang dapat dihubungi sebagai perwakilan Supplier/Customer.

6. Company Phone diisi dengan nomor telepon Perusahaan Pemasok

7. No Telep/HP diisi nomor telepon selain nomor telepon perusahaan, misalnya nomor telepon contact person.

Email diisi dengan email perusahaan pemasok.

Setelah selesai membuat master supplier/customer, klik “Menu”, setelah kita dibawa ke sheet “Menu” lalu kembali klik shortcut “Pembelian

Setelah daftar supplier dibuat, kini kolom Vendor di Buku Pembelian sudah dapat diisi, lihat gbr diatas. Kolom Vendor dapat diisi dengan Le Bon Bon.

D. Setelah kolom vendor dapat diisi, kini kita akan mengisi kolom kode barang 2. Sebelum mengisi kolom ini, sama seperti kolom vendor, kita perlu membuat Master Data yang kali ini “Master Data Persediaan”.

Untuk membuatnya, klik kotak kuning bertuliskan “Menu” di kanan atas lalu di sheet “Menu” klik shortcut “Inventory” maka kita akan dibawa ke sheet “Inventory seperti gambar dibawah ini.

Keterangan Gambar :

1. No. Merupakan No Urut

2. Kode merupakan kode Barang. Kode barang ini dibagi menjadi 2 kelompok

Jika Bahan baku tersebut dapat dihitung jumlah kuantitasnya baik pembelian maupun pemakaian maka diberi kode “BB” diawal kode barang

Jika Bahan Baku tersebut sulit untuk ditentukan kuantitas persediaannya maka diberi kode “HBS” diawal kode barang

3. Nama Barang diisi dengan Nama Bahan Baku yang digunakan (dibeli dan dijual)

4. Diisi dengan satuan barang misal gr,ml, sachet dll.

5. Stok dibagi 2 yaitu MIN dan MAX

- MIN adalah stok minimal yang dianjurkan, terisi otomatis.

- MAX adalah stok maksimal yang dianjurkan, terisi otomatis.

6. Jangka Waktu Pemesanan diisi dengan jangka waktu mulai dari pemesanan hingga barang diterima. Kolom ini untuk menentukan berapa stok minimal yang harus dimiliki.

7. Rata-rata pemakaian perhari merupakan jumlah rata-rata penggunaan bahan baku dalam satu hari.

8. AWAL stok awal periode atas persediaan yang dibagi menjadi 3 yaitu Kuantitas (Unit), nilai rupiah per unit (Rp) dan nilai rupiah total dari barang persediaan.

9. Total Pembelian juga dibagi menjadi 3 yaitu Kuantitas (Unit), nilai rupiah per unit (Rp) dan nilai rupiah total dari “pembelian” barang persediaan. Kolom ini terisi otomatis setelah melakukan pencatatan atas pembelian disheet “PO”

10. Harga Satuan Rata-rata adalah nilai perolehan persedian yang dihitung dengan metode rata-rata. Kolom ini terisi secara otomatis.

11. Harga Pokok (HPP) adalah Harga Pokok Penjualan. Kolom ini menunjukkan nilai persediaan ratat-rata yang menjadi “Biaya” dikarenakan penggunaan Bahan Baku baik karena penjualan maupun karena rusak. Jika ingin membuat file baru dikarenakan berakhirnya periode pencatatan, maka HPP tersebut di copy lalu klik paste special lalu klik Value di kolom “AWAL” “Rp”.

12. JUAL merupakan jumlah kuantitas barang yang digunakan karena penjualan.

13. Adjustment, diisi jika untuk mencatat penyesuaian barang akibat selisih antara pencatatan dengan fisik barang (hasil stok opname). Contoh berdasarkan pencatatan pembelian dan penjualan, maka stok barang sisa 5, namun setela dicek fisik ternyata barang tersebut hanya tersisa 2 buah. Maka kolom Adjusment ini diisi dengan angka – 3.

14. Akun diisi dengan mengklik cell yang akan diisi dan pilih kode akun yang digunakan. Jika barang tersebut adalah Barang yang menjadi persediaan atau dapat dihitung maka gunakan kode akun “51102-Pembelian” jika barang tersebut sulit dihitung kuantitasnya maka pilih akun “51108-Bahan Habis Pakai”.

Setelah selesai membuat master Persedian, klik “Menu”, setelah kita dibawa ke sheet “Menu” lalu kembali klik shortcut “Pembelian”.

Setelah daftar Persediaan dibuat, kini coba klik cell di kolom “Kode Barang 2” maka akan muncul daftar barang yang telah kita buat sehingga Buku Pembelian sudah dapat diisi, lihat gbr dibawah ini :

A. Kode Barang : Diisi dengan Kode Barang. Pengisian dengan meng-klik cell yang akan diisi dan memilih barang yang akan dibeli, jika belum ada, nama dan kode barang dapat dibuat di Sheet “StoK”.

B. Stok terisi secara otomatis. Angka yang ditunjukkan adalah jumlah stok yang tersisa.

C. Vol : diisi dengan jumlah barang yang dipesan/dibeli

D. Sat : Kolom ini akan terisi otomatis, yaitu satuan pembelian barang (Kg, ml, pcs dll)

E. PPN : Jika pembelian dikenakan PPn maka isi dengn huruf “Y”, jika tidak diisi dengan “T”.

F. Harga Satuan : diisi dengan Harga satuan beli.

G. Total Harga : Kolom ini akan mengkalkulasi secara otomatis (Vol x Harga Satuan) + (PPn x (Vol x Harga Satuan))

H. Potongan Pembelian : Dibagi menjadi 2 kolom, yaitu % dan Rp)

I. Potongan Pembelian (%) : Diisi dengan % Potongan yang diterima

J. Potongan Pembelian (Rp) : Diisi secara otomatis

K. Jumlah : Diisi secara otomatis ( Total Harga- Potongan Pembelian (Rp) )

Modul Penjualan :

Berikut alur kegiatan Penjualan.

Sebelum melakukan pencatatan penjualan terlebih Daftar produk yang akan dijual dengan mengklik shortcut “Harga Jual” di sheet menu lalu isi tabel “DAFTAR BARANG DAGANGAN” seperti gambar dibawah ini seperti dibawah ini :

Keterangan :

· No : Nomor terisi otomatis

· Kode : Kode referensi, kolom ini akan terisi otomatis

· Nama Barang : Ketik nama produk yang akan dijual dalam contoh ini kita beri nama Cappuccino Cincau.

· HPP : atau Harga Poko Produk adalah perkiraan biaya dari suatu produk.

· Harga Jual Real : merupakan harga produk yang dijual

· Margin : Adalah persentase keuntungan dibandingkan dengan HPP

Jika telah selesai maka kembali ke “Menu” lalu klik “ Biaya Produksi” yang akan membawa ke sheet ”Database Harga” (lihat gambar dibawah ini)

Keterangan :

· Nama Produk : Klik dibawah tulisan Nama Produk, maka akan muncul pilihan Nama Produk yang telah kita buat di “DAFTAR BARANG DAGANGAN”, dalam contoh ini nama produk hanya muncul 1 yaitu Cappuccino Cincau

· Penjualan : Adalah jumlah produk yang terjual

· Kode Barang : Adalah kode bahan baku (terisi otomatis)

· Nama Bahan : Adalah nama bahan baku yang telah kita buat didaftar “Inventory”, klik dan pilih bahan yang digunakan

· Unit perserving : Jumlah quantity bahan yang digunakan, contoh diatas “Susu coklat 1 kaleng(HBS-S001)” digunakan sebanyak 0,05 kaleng. Dikarenakan satuan pembelian adalah 1 kaleng dan setiap 1 kaleng diperkirakan dapat digunakan untuk 20 gelas, maka unit perserving adalah “1/20 = 0,05”

· Satuan beli : Adalah satuan yang digunakan didalam pembelian, contoh : satuan pembelian Bubuk cappucino yang digunakan didalam pembelian adalah gram. (terisi otomatis)

· Rata-rata Harga beli satuan : Adalah Nilai rupiah rata-rata selama pembelian. Kolom ini akan terisi secara otomatis.

· ? Price Perserving : adalah unit perserving x rata-rata harga satuan. Contoh : untuk “Susu coklat 1 kaleng(HBS-S001)” adalah 0,05 x harga perkaleng yaitu Rp. 8.000 maka hasilnya adalah Rp. 400

· Out Total (Qty) : adalah jumlah barang yang keluar selama penjualan.

· Out Total (Rp) : adalah nilai rupiah dari barang yang digunakan atas produk yang terjual.

Setelah daftar produk dibuat kini aplikasi ini sudah dapat digunakan untuk mencatat penjualan. Kembali ke “Menu” kemudian klik “Form” sehingga kita dibawa ke sheet Form seperti gambar dibawah ini.

Print form tersebut untuk digunakan pencatatan penjualan dengan cara diisi oleh petugas/karyawan penjualan secara manual.

Keterangan Pengisian :

· No. : Nomor urut Produk

· Item Id : Kode Produk

· Name : Nama Produk

· Turus : Turus atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Tally Mark adalah istilah untuk menggambarkan angka berupa simbol tertentu dengan tujuan untuk mempermudah pembacaan angka tersebut, terutama angka yang berjumlah cukup banyak. Simbol yang digunakan umumnya berupa garis-garis vertikal dimana setiap kelipatan lima menggunakan garis horisontal atau diagonal. Oleh karena itulah dalam bahasa Indonesia simbol ini disebut dengan turus yang berarti tiang. Dengan demikian kolom “Turus ini digunakan untuk mencatat setiap penjualan. Contoh, tanggal 5 Mei 2013, E=MC2 mulai beroperasi danpenjualan pertama terjual 2 gelas, penjualan kedua terjual 1 gelas, penjualan ketiga laku 2 gelas, maka pengisian turus ini adalah

- Penjualan pertama dicatat : II

- Penjualan kedua ditambahkan 1 garis menjadi : III

- Penjualan ketiga ditambah 2 garis menjadi : IIII

Pencatatan ini terus dilakukan hingga kios tutup, misalkan penutupan kios pada malam harinya berhasil terjual 27 gelas, maka pencatatan turusnya adalah

· Jumlah : Jumlah produk terjual, kolom ini diisi dengan menghitung total Turus yang dicatat setelah penjualan ditutup, contoh jumlah turus diatas adalah 27 maka kolom “Jumlah tersebut diisi dengan angka 27

· Total (Rp) : diisi dengan mengalikan kolom “Jumlah” dengan kolom “Harag”. Contoh kasus diatas adalah 27 x Rp. 5.000 = Rp. 135.000,-

Maka tampilan form tersebut seperti gambar dibawah ini

Setelah form tersebut terisi lengkap, masukkan data tersebut ke “buku Penjualan” dengan mengklik shortcut “ Penjualan” lihat gambar dibawah ini

Keterangan gambar :

· No : Nomor urut entri

· Date : Tanggal transaksi

· Kode : Kode Produk

· Nama Produk : Nama Produk dijual

· Jml : Jumlah produk terjual

· Harga : Harga Produk dijual (otomatis terisi sesuai dengan “DAFTAR BARANG DAGANGAN”

· Total : Kolom “Jml” x Kolom “Harga”

· 42006 Discount Penjualan : dibagi menjadi 2 kolom, kolom pertama adalah % tase discount dan kolom kedua adalah jumlah rupiah discount ynag diberikan (kolom berwarna biru)

· 21312 PPN Keluaran : Dibagi menjadi 2 kolom juga, kolom pertama adalah % tase Ppn keluaran/penjualan dan kolom kedua adalah jumlah rupiah PPn kelauaran/penjualan (kolom berwarna biru)

· No. JV : adalah nomor jurnal/pencatatan penjualan

Download Link Petunjuk Aplikasi : download iconAtau klik Link dibawah ini :

http://www.docstoc.com/docs/162776970/Petunjuk-Aplikasi-Usaha-Kecil

Download Link Aplikasi Excel : download iconAtau klik Link dibawah ini :

http://www.docstoc.com/docs/162777725/Aplikasi-Keuangan-Usaha-Kecil

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Standard Operating Prosedure (SOP) Pertanggung Jawaban Kas Bon

Dibawah ini adalah contoh Standard Operating Prosedure (SOP) Pertanggung Jawaban Kas Bon. Disetiap perusahan mungkin berbeda SOP nya satu sama lain sekalipun dalam satu jenis perusahaan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti Informasi teknologi yang dipergunakan, bentuk fisik gedung dan lainnya.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)