Standard Operating Prosedure (SOP) Pertanggung Jawaban Kas Bon

Dibawah ini adalah contoh Standard Operating Prosedure (SOP) Pertanggung Jawaban Kas Bon. Disetiap perusahan mungkin berbeda SOP nya satu sama lain sekalipun dalam satu jenis perusahaan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti Informasi teknologi yang dipergunakan, bentuk fisik gedung dan lainnya.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

SOP Laporan Harian Kas Kasir

Keterangan :

1. Sebelum melakukan proses pembayaran (setor kebagian keuangan), siapkan Laporan Pendapatan Harian Kasir serta Kwitansi dari Pasien sebagai dokumen Pendukung.

2. Bagian Keuangan memeriksa Laporan Pendapatan Harian dengan mencocokkan ke bukti pendukungnya yaitu Kwitansi

3. Jika Laporan Harian Kasir tidak sesuai dengan kwitansi ( Jumlah rupiah kwitansi, kwitansi yang hilang dll) maka kembalikan kepada Bagian Pelayanan untuk dilengkapi.

4. Jika sesuai, terima Laporan Pendapatan harian lalu buatkan Slip Setoran Bank untuk segera dilakukan penyetoran.

5. Selesai

Jasa Penyusunan Laporan Keuangan, Penyusunan SOP, Audit dll

Hubungi Kami di

http://akuntansi.name/?page_id=3566

or email us :

imelakuntansi@gmail.com

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pencatatan Sisa Dana Kegiatan Pada Organisasi Nirlaba

Organisasi Nirlaba jika menerima sumbangan dari donatur yang diikat dengan perjanjian dan dibatasi untuk tujuan dan waktu tertentu atau bersifat sementara hingga kondisi-kondisi pembatasannya terpenuhhi disebut Sumbangan Terikat Sementara.

Contoh : LSM Indonesia bekerja sama dengan salah satu WHO untuk melaksanakan program “Pemantauan atas Iklan dan Sponsorsip Industri Rokok di Indonesia.” dan lembaga tersebut memberi kode atas program tersebut W-01. Atas kerjasama tersebut LSM Indonesia memperoleh dana sebesar Rp. 100.000.000,- untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Perjanjian tersebut ditandatangani tanggal 1 April 2012 dan kerjasama berakhir pada tanggal 30 September 2012. Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa sisa dana kegiatan dan peralatan yang diperoleh dengan menggunakan dana tersebut akan menjadi hak LSM Indonesia pada saat berakhirnya perjanjian tersebut. Atas penerimaan tersebut maka LSM Indonesia akan mencatat :

Dr. Bank …..Rp. 100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Sumbangan Terikat Temporer …..Rp. 100.000.000,-

Pada tanggal 10 April 2012, Tn Ahmad dari LSM Indonesia sebagai penanggung jawab program menerima dana tersebut dari lembaga untuk memulai kegiatan. Atas pemberian dana tersebut, lembaga mencatat :

Dr. Uang Muka Kegiatan – Program W-1 ……Rp. 100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Bank……………………………..Rp.100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Pada tanggal 10 September kegiatan telah selesai dan Tn. Ahmad memberikan Laporan Hasil Kegiatan dan sekaligus mempertanggungjawabkan Dana Kegiatan yang diterimanya dengan perincian Pengeluaran sbb :

1. Biaya2x (Fee relawan, Spanduk dan Cetakan, Transportasi dan Administrasi)…Rp. 63.000.000

2. Peralatan (Kamera, Handycam dan Laptop) …Rp. 27.000.000,-

Atas pertanggungjawaban Tn Ahmad, lembaga mencatat :

Atas Biaya-Biaya yang dikeluarkan LSM Indonesia mencatat :

10/09/2012

Dr. Biaya Program W-1………………………………..Rp, 63.000.000,- (Lap Aktivitas)

Dr. Aset Tetap Terikat Temporer Peralatan ……… Rp.27.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Dr. Kas Terikat Temporer – Dana Program W-1…Rp. 10.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Uang Muka Kegiatan – Program W-1…………………………Rp.100.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Tanggal 30 September 2012 dengan berakhirnya Program Kerjasama, LSM Indonesia mencatat atas sisa dana kegiatan dan Peralatan yang diperoleh dari Dana Terikat tersebut diatas sbb :

Dr. Aset Bersih Yang Berakhir Pembatasannya-Program W-1 Rp. 37.000.000 (Lap Aktivitas)

Kr. Kas Terikat Temporer – Dana Program W-1…………………………Rp.10.000.000 (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Aset Tetap Terikat Temporer – Peralatan ……………………………..Rp.27.000.000 (Laporan Posisi Keuangan)

* Untuk mencatat Beban Program W-1 atas penyerahan sisa dana kegiatan Rp. 10 jt dan Peralatan sebesar Rp. 27 Jt kepada LSM Indonesia

Dr. Kas Tidak Terikat …….Rp. 10.000.000,0 (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Aset Bersih Yang Berakhir Pembatasannya….Rp.10.000.000,- (Lap Aktivitas)

* Untuk mengakui penerimaan sisa dana kegiatan oleh lembaga dari Program W-1

Dr. Aset Tetap Tidak Terikat ……..Rp.27.000.000,- (Laporan Posisi Keuangan)

Kr. Pemenuhan pembatasan pemerolehan peralatan ….Rp.27.000.000,- (Lap Aktivitas)

* Untuk mengakui penerimaan Peralatan Program W-1 oleh lembaga

Note : Laporan Posisi Keuangan = Neraca ; Laporan Aktivitas = Laporan Laba Rugi Komprehensif

Jika ada kekeliruan, mohon koreksinya ya……!

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Bukti Jurnal

Bukti Transaksi berupa Kwitansi dapat dijadikan dasar pencatatan akuntansi sebagaimana yang dicontohkan pada postingan sebelumnya.. (lihat “Bukti transaksi – kwitansi” ). Adakalanya suatu perusahaan didalam pencatatan membuat bukti internal berupa Bukti Jurnal ( sering disebut Journal Voucher). Setelah Bukti Jurnal dibuat lalu dilampirkan Kwitansi yang diterima dari pihak ketiga. Bukti Jurnal yang dibuat untuk pembayaran sewa gedung sebesar Rp. 108.900 adalah sebagai berikut :

Bukti jurnal memperlihatkan nama-nama perkiraan yang didebit dan dikredit berikut nomor perkiraan beserta jumlhanya. Disamping itu didalmnya juga dicantumkan nama dan tanda tangan pembuat (biasanya staff akuntansi) dan yang menyetujui (biasanya manager/Ka Bag akuntansi). Dengan demikian, bukti jurnal dapat menunjukkan siapa yang bertanggung jawab atas kebenaran pencatatan transaksi apabila dikemudian hari terjadi masalah.

Tanggal yang tercantu dalam kwitansi harus sama dengan tanggal Bukti Jurnal. Jika saat pembuatan bukti jurnal berbeda dengan terjadinya transaksi, bukti jurnal tetap diberikan menurut tanggal tanggal kwitansi. Bukti Jurnal harus diberi nomor urut agar mudah didalam penyimpanan dan pencariannya dikemudian hari.

klik untuk download contoh file

download icon

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.3/10 (11 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: -1 (from 1 vote)

Bukti transaksi – kwitansi

Sebagai dasar pencatatan didalam akuntansi maka diperlukan bukti-bukti transaksi yang agar setiap pencatatan yang dilakukan dapat dipertanggung jawabkan dan juga berfungsi untuk pengklasifikasian transaaksi tersebut (pemberian kode akun).

Disamping itu juga, bukti-bukti transaksi bisa menjadi suatu rujukan jika dikemudian hari terjadi masalah.Bukti transaksi dapat disediakan baik dari perusahaan sendiri atau dari pihak luar. Bukti transaksi yang dibuat oleh perusahaan sendiri disebut bukti internal sedangkan yang disediakn dari pihak luar disebut bukti eksternal.

Contohh kasus :
Ganteng Barber shop mengeluarkan uang Rp. 108.900 untuk sewa ruangan kepada Varin Kaspi sebagai pemilik gedung. Atas pengeluaran ini, Ganteng BS meminta bukti pembayaran berupa kwitansi sebagai bukti bahwa uang telah diterima seperti terlihat dibawah ini.

Bukti kwitansi tersebut diatas dapat digunakan untuk pencatatan akuntansi oleh Ganteng Barber Shop. ( untuk penjelasan silahkan lihat link “Bukti Jurnal” )

Sebaliknya jika Ganteng BS yang menerima uang dari pelanggan, maka Ganteng BS akan mengeluarkan kwitansi serupa yang akan diserahkan kepada pelanggan.

download icon

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Perbedaan Biaya Dibayar Dimuka (Prepaid Expenses) dan Uang Muka Kerja (Cash Advance)

Kalau menurut gw Perbedaan Biaya Dibayar dimuka dengan Uang Muka adalah sebagai berikut :
1. Biaya dibayar dimuka merupakan arus kas keluaratau pengeluaran perusahaan yang telah dapat ditentukan penggunaannya karena telah terpenuhinya bukti-bukti legal/dokumen2 yang sah dan dapat dipertanggung jawabkan dari pihak ketiga seperti kwitansi,invoice dll namun perusahaan belum menerima manfaat baik berupa barang/jasa atas pengeluaran tsb.
Contoh : PT. Bus Pariwisata mengeluaran cek untuk pembayaran Sewa Kantor untuk masa 1 tahun kedepan, atas pembayaran sewa tersebut diterima bukti pembayaran berupa kwitansi. Atas transaksi tersebut maka PT. Bus Pariwisata mengakui pengeluaran tersebut sebagai Biaya Dibayar dimuka dan Bukan beban sewa karena manfaat atas sewa itu belum diterima atau digunakan oleh perusahaan sehingga belum bisa diakui sebagai beban.
Jurnalnya :
Dr. Biaya Dibayar Dimuka Rp. xxxx
Dr. PPn Masukan Rp. xxxx
Kr. Hutang Pajak – PPh psl 4 Rp. xxxx
Kr. Bank Rpxxxx
2. Sedangkan Uang Muka Kerja (Cash Advance) merupakan arus kas keluar atau pengeluaran perusahaan yang terjadi namun belum dapat ditentukan penggunaannya karena belum terpenuhinya bukti-bukti legal/dokumen yang sah dari pihak ketiga sebagai pendukung transaksi.
Contoh : Pada tanggal 1 Juni 2012 Amir seorang karyawan PT. Galaxy Max Consultant ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan seminar yang akan diadakan pada tanggal 1 Juli 2012. Atas penugasan tersebut Amir menerima uang muka kerja untuk melaksanakan kegiatan seminar tersebut, maka atas penerimaan uang tersebut perusahaan mencatat :
Jurnalnya :
Dr. Uang Muka (Cash Advance) Rp. xxxx
Kr. Kas Rp. xxxx
* Untuk mencatat penyerahan kas

Pada tanggal 5 Juli 2012 Amir mempertanggung jawabkan uang muka kerja tersebut dengan membuat laporan hasil kegiatan yang dilampiri dengan bukti-bukti pengeluaran seperti kwitansi sewa peralatan dan gedung, pembelian konsumsi dan lain-lain. Atas pertanggung jawaban tersebut, perusahaan akan mencatat

Dr. Biaya-biaya (sewa, konsumsi dll) Rp. xxxx
Kr. Uang Muka Kerja (Cash Advance) Rpxxxx
* Untuk mengakui biaya-biaya atas pengeluaran kas.

Bagaiman teman-teman, ada ide lain tentang biaya dibayar dimuka???

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)

Contoh Sistem Penerimaan Keuangan Pada Organisasi Nirlaba

Penerimaan Keuangan adalah Aliran Masuk Uang baik tunai maupun melalui transfer bank. Setiap penerimaan uang tunai harus segera disetorkan kedalam rekening bank milik organisasi pada hari kerja berikutnya.

Sumber Dana

Sumber-sumber dana Organisasi Nirlaba dapat bersumber dari internal maupun eksternal/pihak ketiga yang antara lain:

- Sumbangan Pengurus dan sumbangan karyawan.

- Sumbangan Perorangan, penerimaan ini biasanya disebut sumbangan masyarakat

- Sumbangan Non Perorangan seperti lembaga swasta (Dana CSR, sumbangan untuk bencana alam, dana kerjasama dan lainnya) dan pemerintah.

- Fundraising, contoh sumber ini adalah penjualan buku, penjualan suvenir, dan lain-lain

- Fee yang diterima dari pihak ketiga atas pengiriman anggota/pengurus sebagai narasumber

- Lainnya seperti Bunga Bank, Penjualan Aset Tetap dan lain-lain.

2. Transaksi Perbankan

- Setiap penerimaan dana kerjasama dari pihak donor yang bersifat mengikat melalui perbankan yang masing-masing dibuatkan Rekening Koran/Giro, kecuali disebutkan lain didalam perjanjian.

Hal ini bertujuan untuk :

a. memudahkan didalam memonitor Dana Kerjasama (Dana Terikat) tersebut telah diimplementasikan melalui kegiatan pada proposal yang telah disepakati.

b. memudahkan didalam mempertanggungjawabkan dana tersebut ketika dilakukan pemeriksaan.

c. Memudahkan didalam pengujian silang antara realisasi anggaran dengan saldo/sisa dana anggaran, misalnya berdasarkan laporan realisasi anggaran, dana tersedia adalah Rp. 50.000.000, maka dengan pemisahan rekening tersebut kita dapat dengan mudah menguji silang dengan rekening koran yang telah dipisah. Coba bayangkan jika dana tersebut dicampur dengan dana lain dalam satu rekening????

- Penerimaan dana lainnya/Dana tidak terikat dibuatkan rekening lainnya yang terpisah dari Rekening Dana Terikat.

bersambung….

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Contoh Pencatatan Kegiatan Awal Perusahaan

Awal dari sutu kegiatan perusahaan adalah Penyetoran Modal oleh pemilik. Contoh :

Tuan Gunawan punya uang Rp. 100.000.000,-. Uang tersebut digunakan untuk mendirikan usaha yang dia beri nama UD. Unique Accessories. Maka uang tersebut biasa kita sebut sebagai “Modal”. Sesuai dengan persamaan akuntansi yaitu :

ASET = UTANG + MODAL

ASET = Kas & Bank; Persediaan; Piutang;Tanah, Bangunan dan Peralatan

maka uang tersebut berdasarkan persamaan akuntansi tersebut menjadi :

KAS = 100.000.000

MODAL = 100.000.000

ASET = UTANG + MODAL

100.000.000 = 0 + 100.000.000

100.000.000=100.000.000

Posisi tersebut diatas bisa disebut “Neraca” dimana sisi sebelah Kiri (Aset) harus sama dengan sisi sebelah kanan (PASIVA)

Transaksi tersebut diatas dicatat sebagai berikut :

* untuk mencatat penyetoran tuan Gunawan sebesar Rp. 100.000.000,-

Dan Buku Besar Kas yang dihasilkan sebagai berikut :

Penerimaan Pinjaman

Terkadang Modal yang dimiliki belum cukup untuk menjalankan usaha sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana. Tambahan dana ini dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti lempaga keuangan.

Contoh : pada tanggal 2 Februari 2011 perusahaan mendapat pinjaman dana dari Bank BCA sebesar Rp. 50 juta, maka persamaan akuntansi seperti yang kita ketahui adalah sebagai berikut :

Aset = Utang + Modal

Kas + Bank = Utang + Modal

100 juta + 50 Juta = 50 Juta + 100 Juta

Sekarang Possisi Keuangan perusahaan telah berubah, Kekayaan perusahaan menjadi 150 juta terdiri dari Kas dan Bank masing-masing Rp. 100 juta dan 50 Juta dan Sumber Pembelanjaan sebesar 150 juta masing-masing terdiri dari Utang Rp. 50 Juta dan Modal Rp. 100 Juta. Pencatatan yang dilakukan atas penerimaan pinjaman tersebut adalah

Dr. Bank BCA Rp. 50 Juta

Kr. Utang Bank Rp. 50 juta

Jika menggunakan Excel sebagai alat pencatatan dapat dilihat seperti gbr dibawah berikut :

Laporan Posisi Keuangan yang dihasilkan seperti :

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pajak Penghasilan ( PPh 21 ) Honor Dokter yang diterima berkesinambungan.

Pajak penghasilan bagi dokter yang menerima penghasilan dari pemberi kerja dan bersifat berkesinambung memiliki ketentuan sebagai berikut:

Apabila penghasilan tersebut diberikan karena pekerjaan atau jasanya bersifat berkesinambungan baik berdasarkan kontrak atau kenyataan sebenarnya, maka tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a diterapkan atas jumlah kumulatifnya. (sumber : http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-bagi-dokter ), contoh :

  1. Misal Dokter A (swasta ataupun PNS/TNI/POLRI) menerima honorarium pada bulan Maret 2009 sebesar Rp30.000.000. dari Rumah sakit Z, PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi kerja/pemberi penghasilan : 5% x (50% x Rp30.000.000,-) = Rp750.000.-,Dokter A wajib diberikan bukti potong PPh Pasal 21.
  2. Misalnya di bulan April 2009 Dokter A juga mendapat honorarium sebesar Rp80.000.000,- dari Rumah Sakit Z (bulan Maret 2009 telah menerima Rp30.000.000,-), sehingga jumlah kumulatifnya menjadi Rp30.000.000,- + Rp80.000.000,- = Rp110.000.000,-
    Dasar Pemotongan PPh Pasal 21 dari jumlah kumulatif tersebut adalah 50% x Rp110.000.000,- = Rp55.000.000,- , sehingga PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh Rumah Sakit Z adalah :
    5% x Rp50.000.000 = Rp2.500.000,-
    15% x Rp5.000.000 = Rp 750.000,- (+)
    Total Rp3.250.000,-
    Karena bulan Maret telah dipotong Rp750.000,-, maka bulan April PPh yang harus dipotong Rp3.250.000 – Rp750.000 = Rp2.500.000
  3. Jumlah Penghasilan adalah Jumlah penghasilan bruto bagi Dokter yang melakukan praktik di rumah sakit dan/atau klinik adalah sebesar jasa Dokter yang dibayar oleh pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit dan/atau klinik.
  4. Misal untuk bulan-bulan selanjutnya, dokter tersebut mendapat honor seperti tabel dibawah ini :

Pada Bulan Maret tersebut diatas, Rumah Sakit menerima pembayaran dari pasien atas jasa medis (Honor) dokter sebesar Rp. 30.000.000,-. Atas penerimaan pasien tersebut, Rumah Sakit mendapat sharing/bagi hasil sebesar 20% atau sebesar Rp.6.000.000,- dan dokter 80% atau sebesar Rp. 24.000.000,-
a. Atas Penerimaan tersebut Jurnal yang dilakukan oleh Rumah Sakit adalah

Dr. Kas – Neraca Rp. 30.000.000,-

Kr. Pendapatan Jasa Medis – LR Rp. 30.000.000,-

b. Untuk mencatat penerimaan dari Pasien atas Jasa Medis Dokter bulan Maret.

Dr. Biaya Jasa Medis Dokter -LR Rp. 24.000.000,-

Kr. Hutang Jasa Medis – NR Rp. 24.000.000,-

c, untuk mencatat pemotongan pph 21 Jasa Medis Dokter bulan maret sebesar :

5% x (50% x 30.000.000,-) = Rp. 750.000,-

Dr. Utang Jasa Medis – NR Dr. 750.000,-

Kr. Utang PPh 21 – NR Kr. 750.000,-

* Untuk mencatat potongan PPh 21 atas honor Dokter yang terhutang untuk bulan maret,lihat poin no.1 , dasar pemotongan adalah penghasilan bruto sebelum dipotong biaya-biaya (sebelum dipotong bagi hasil untuk rumah sakit)

d. untuk mencatat pembayaran Utang Jasa Medis Dokter

Dr. Utang Jasa Medis Dokter Rp. 23.250.000
Kr. Bank Rp. 23.250.000

e. untuk mencatat penyetoran/pembayaran PPh 21
Dr. Utang PPh 21 Rp. 750.000,-
Kr. Bank Rp. 750.000,-

.PENCATATAN BULAN APRIL OLEH RUMAH SAKIT

Dr. Kas – Neraca Rp. 80.000.000,-

Kr. Pendapatan Jasa Medis – LR Rp. 80.000.000,-

Untuk mencatat penerimaan dari Pasien atas Jasa Medis Dokter bulan April.

Dr. Biaya Jasa Medis Dokter -LR Rp. 64.000.000,-

Kr. Hutang Jasa Medis – NR Rp. 64.000.000,-

untuk mencatat pembagian Jasa Medis Dokter bulan April sebesar 80%:

80% x 80.000.000,- = Rp. 64.000.000,-

Dr. Utang Jasa Medis – NR Dr. 2.500.000,-

Kr. Utang PPh 21 – NR Kr. 2.500.000,-

Untuk mencatat potongan PPh 21 atas honor Dokter yang terhutang untuk bulan April ,lihat poin no.2 , dasar pemotongan adalah akumulasi penghasilan bruto sebelum dipotong biaya2x (sebelum dipotong bagi hasil untuk rumah sakit) yaitu 30 jt +80 jt = 110 jt.

klik disini untuk download file :

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Also available in : English

Prosedur Pemeriksaan Kas

Prosedur Pemeriksaaan Kas

1. Perhitungan Fisik Kas (Cash Count) , Tujuan : Memastikan keberadaan fisik kas.

2. Lakukan Perhitungan mundur ke posisi tutup buku; Tujuan : Memastikan keberadaan fisik sesuai dengan saldo buku

3. Buat Berita Acara Pemeriksaan Kas yang ditandatangani minimal oleh pemegang kas (Kasir/Bendahara) dan oleh pemeriksa (Auditor/Accounting)

4. Buat Daftar cek dan bon sementara beserta bukti pendukungnya yang belum dibukukan. (Jika ada)

 

Contoh form pemeriksaan kas (Klik gambar untuk download excel)

Form Cash Opname

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Kas Kecil (Petty Cash)

Adalah dana yang dibentuk untuk membiayai pengeluaran rutin perusahaan dan jumlahnya relatif kecil

Metode pencatatan Kas kecil

  1. Sistem dana tetap (imprest fund system)
  2. Sistem dana berfluktuasi (Fluctuating fund system)

1. Sistem dana tetap (imprest fund system)

Pembentukan dana kas kecil Kasir kas kecil diberikan sejumlah uang. Pada saat kas kecil hampir habis kasir kas kecil membuat laporan penggunaan dana untuk keperluan pengisian kembali dana kas kecil. Pengisian dana kas kecil selalu sebesar pengeluaran yang telah dilakukan.

Contoh Kasus

Pada tanggal 1 Desember Toko e LG electronic membentuk dana kas kecil sebesar Rp. 250.000. Berikut di bawah ini daftar perincian dana kas kecil:

Daftar Perincian Dana Kas Kecil
20 Desember 31 Desember
1. Uang Kertas Rp. 5.000 Rp. 25.000
2. Uang Logam 2.750 2.500
3. Perangko - 3.750
4. Rek Air & Listrik 47.500 52.750
5. Biaya Pos dan Telp/Fax 125.250 93.750
6. Pembelian Supplies Kantor 17.500 20.000
7. Biaya Rapat dan Pertemuan 31.250 47.250
8. Biaya makan/minum kary 25.000 2.750
9. Selisih dana kas kecil (4.250) 2.250
Jumlah dana kas kecil Rp. 250.000 Rp. 250.000

Jurnal :

1 Desember

Pembentukan dana kas kecil

Dana Kas Kecil

Rp. 250.000

Kas (Bank)

Rp. 250.000

20 Desember

Pengisiankembalidanakaskecil

Biaya Air & Listrik

Rp.47.500

Biaya Pos danTelp/Fax

125.250

Biaya Supplies Kantor

17.500

Biaya Rapat & Pertemuan

31.250

Biaya Makan Minum Karyawan

25.000

Selisih Kas

4.250

Kas (Bank)

Rp242.250

31 Desember

Mencatat biaya periode 20 – 31 Desember & pengisian kembali dana kas kecil

PersediaanSuplies Kantor (perangko)

Rp.3.750

Biaya Air & Listrik

52.570

Biaya Pos danTelp/Fax

93.750

Biaya Supplies Kantor

20.000

BiayaRapat & Pertemuan

47.250

BiayaMakanMinumKaryawan

2.750

SelisihKas

2.250

Kas (Bank)

222.500

Dimisalkanpada 31 Desembertidakdilakukanpengisiankembali, danhasilkasopnamemenunjukkaninformasi yang samadengancontohdiatas, maka

31 Desember

Mencatatbiayaperiode 20 – 31 Desember & tidakdilakukanpengisiankembalidanakaskecil

PersediaanSuplies Kantor (perangko)

Rp.3.750

Biaya Air & Listrik

52.570

Biaya Pos danTelp/Fax

93.750

Biaya Supplies Kantor

20.000

BiayaRapat & Pertemuan

47.250

BiayaMakanMinumKaryawan

2.750

SelisihKas

2.250

Kas Kecil

222.500

1. Sistem dana berfluktuasi (Fluctuating fund system)

Padasisteminiakunkaskecildipakaiuntukmencatattransaksi yang mempengaruhijumlahkaskecil, diantaranya:

(1) Pembentukandanakaskecil, (2) Penggunaan/pengeluarandanakaskecil, (3) Pengisiandanakaskecil, (4) penambahandanakaskecil, maupun (5) pengurangan/penarikankembalidanakaskecil.

Pencatatandilakukansegerasetelahterjadipengeluarankaskecil, tidakditangguhkans.d. saatpengisiankembalidanakaskecil (sptpadasisitemdanatetap). Akunkaskecilpadadasaryaharusmenunjukkansaldopadasetiapsaatsebesarjumlahdanakaskecil yang adadikasirkaskecil.

Olehkarenaitumakapadasisteminiharusdiselenggarakanbukujurnalkhusus (tersendiri)

Contohkasus:

Padatanggal 31 Desember 2005, PT. ShifamembentukdanakaskecilsebesarRp. 250.000. Berikuttransaksi yang berhubungandengankaskecilselamabulanDesember 2005:

5 Desembermembayarrekening air & listrikRp. 47.500

7 Desembermembayarrekeningtelpon & Fax Rp. 125.250

9 Desemberdibeli supplies kantorRp. 17.500

12 DesemberBiayarapatdanpertemuanRp. 31.250

19 Desemberdibayarbiayamakan/minumkaryawanRp. 25.000

20 Desemberpengisiankembalidanakaskecil, ceksebesarRp. 196.500 diserahkankepadakasirkaskecil

23 DesemberDibayarbiayalangganankoranRp. 12.500

27 DesemberdibeliPerangkosebesarRp. 5.000

Jurnal :

Tgl

Rincian

Debit

Kredit

1/12

Kas Kecil

Rp. 250.000

Kas (Bank)

Rp. 250.000

5/12

Biaya Air & Listrik

Rp.47.500

Kas Kecil

Rp.47.500

7/12

BiayaTelp & Fax

Rp.125.250

Kas Kecil

Rp. 125.250

9/12

Supplies Kantor

Rp.17.500

Kas Kecil

Rp.17.500

12/12

Biaya Rapat & Pertemuan

Rp.31.250

Kas Kecil

Rp.31.250

19/12

Biaya Makan & Minum Karyawan

Rp.25.000

Kas Kecil

Rp.25.000

20/12

Kas Kecil

Rp. 196.500

Kas (Bank)

Rp. 196.500

23/12

Biaya langganan Koran

Rp.12.500

Kas Kecil

Rp.12.500

27/12

Biaya Pos (Perangko)

Rp5.000

Kas Kecil

Rp5.000


Kaskecil

Tgl

Rincian

Debit

Kredit

Saldo

1/12

PembentukanKas Kecil

Rp. 250.000

Rp.250.000

5/12

Air & Listrik

47.500

202.500

7/12

Telepon & Fax

125.250

77.250

9/12

Supplies Kantor

17.500

59.750

12/12

Rapat & Pertemuan

31.250

28.500

19/12

Makan/Minum kary.

25.000

3.500

20/12

Pengisian kas kecil

196.500

200.000

23/12

Langganan Koran

12.500

187.500

27/12

Pos (Perangko)

5.000

182.500

Padasistemdanaberfluktuasiini, padaakhirperiodetetapharusdilakukankasopname.
Apabiladarihasilkasopnameternyatajumlahdanakaskecilberbedadengansaldomenurutpembukuan, makaperludibuatjurnalpenyesuaian
(
adjustment).

Contoh:

Padatgl. 31/12 dilakukankasopnamedanditemukan:

1.kas bon perjalanandinasDirekturUtamaRp. 150.000 tertgl. 29/12

2.UangkertasRp. 24.750

3.UanglogamRp.6.250

4.Perangko yang belumterpakaiRp. 3.750

Karenadalamneraca, kas (termasukkaskecil) harusdisajikansebesarjumlahuang yang benar-benarada, makaberdasarkasopnametadiperludibuatjurnalpenyesuaiansbb:

Tgl

Rincian

Debit

Kredit

31/12

PersediaanPerangko

Rp.3.750

Uangmukaperjalanandinas

150.000

Selisihkas*)

1.500

Biaya Pos

Rp.3.750

Kas Kecil

151.500

*) selisihkas: 182.500 – (150.000+31.000)

1 Desember

Pembentukan dana kas kecil

Dana Kas Kecil

Rp. 250.000

Kas (Bank)

Rp. 250.000

20 Desember

Pengisiankembalidanakaskecil

Biaya Air & Listrik

Rp.47.500

Biaya Pos dan Telp/Fax

125.250

Biaya Supplies Kantor

17.500

Biaya Rapat & Pertemuan

31.250

Biaya Makan Minum Karyawan

25.000

Selisih Kas

4.250

Kas (Bank)

Rp242.250

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)

Manajemen Kas

Aspek utama perencanaan kas adalah penyusunan anggaran kas. Manajer harus menyiapkan daftar kegiatan untuk menimbulkan kas (pembelanjaan) dan kegiatan menggunakan kas (pengoperasian dan penginvestasian). Dengan kata lain manajer harus membuat proyeksi Cash in flow, Cash out flow dan balance (saldo)

Agar tujuan tercapai, ada 2 hal yang harus dilakukan:

1.Menentukan sumber penerimaan kas, misal; kas dari operasi rutin, kas dari pelunasan utang jangka panjang, investasi dari pemilik, penjualan aktiva tetap, mengeluarkan obligasi dll
2.Menentukan rencana penggunaan kas, misal; pembayaran dividen, pembayaran utang jangka panjang, pembelian aktiva tetap, membayar gaji karyawan, dll

Berdasarkan 2 hal tadi maka manajemen dapat mengetahui seberapa besar kas yang dibutuhkan atau seberapa besar kas yang menganggur, selanjutnya dapat ditentukan langkah selanjutnya terhadap kas yang berlebihan/menganggur

Prinsip yang berkaitan dengan pengawasan akuntansi:

oKaryawan yang jujur dan kompeten, serta memiliki tanggung jawab
oTanggung jawab yang terkait harus dilaksanakan oleh fungsi-fungsi yang terpisah
oFungsi akuntansi harus dipisahkan dari fungsi pelaksana
oCatatan akuntansi yang memadai harus terselenggara setiap saat
oMelaksanakan rotasi tugas untuk karyawan yang melaksanakan kegiatan klerikal
oAdanya sistem otorisasi
oAdanya kebiasaan yang baik dalam perusahaan

Pengawasan internal thd kas didesain untuk menjamin bahwa:

1.Adanya pemisahan antara bagian-bagian yang menangani kas
2.Semua kas yang diterima harus segera disetor ke bank
3.Pengeluaran kas harus ada otorisasi dan sesuai tujuan
4.Semua pengeluaran kas harus menggunakan cek, kecuali pengeluaran yang jumlahnya kecil menggunakan petty cash

Copyright protected by Digiprove © 2011 Varin Kaspi

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)