Implementasi Tugas Bagian Pengadaan (Logistik) dengan menggunakan MYOB.

BagianPengadaan/Logistik merupakan bagian yang hampir sering ditemui disetiap jenis perusahaan terutama untuk perusahaan yang bergerak dibidang Perdagangan dan Manufakturing.

Logistik dapat didefinisikan sbb :

Adalah tempat/bagian di dalam suatu perusahaan yang mempunyai peranan sebagai pengadaan, penyimpanan dan distribusi persediaan yang dibutuhkan oleh perusahaan di dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan tugas utama dari bagian logistik yaitu :

  1. Pengadaan, bertanggungjawab atas tersedianya barang-barang yang dibutuhkan oleh perusahaan, pembelian merupakan tugas utama dari Pengadaan.
  2. Penyimpanan, bertugas dan bertanggungjawab atas barang-barang persediaan perusahaan.
  3. Distribus, bertugas dan bertanggungjawab didalam mendistribusikan barang persediaan kesetiap divisi/bagian yang membutuhkan

Beberapa tugas tersebut diatas dapat diaplikasikan dengan menggunakan suatu Aplikasi Akuntansi yang terintegrasi seperti MYOB, Accurate, Zahir.

Berikut beberapa langkah jika kita menggunakan software MYOB.

1. Buatkan akses bagi petugas lpgistik untuk penggunaan MYOB dengan batasan akses sesuai dengan tugasnya. Cara membatasi akses pada MYOB dapat dilihat dengan mengklik link ini :

Membatasi Akses Pengguna (User) pada MYOB Premier

2. Langkah ke 4 pada halaman yang terdapat pada link tsb diatas, batasi penggunaan bagian gudang dengan mengklik kolom “Not Allowed” untuk fungsi-fungsi (function) sebagai berikut :

a. Function “Account”. Dengan mengklik function “Account” maka seluruh menu yang terdapat pada modul Account seperti Account List, Account Information dll tidak akan dapat diakses oleh bagian gudang.

b. Function “Banking”, Dengan mengklik functionl “Banking” maka seluruh menu yang terdapat pada fungsi Banking tersebut seperti Spend Money, Print Cheques, Bank Register dan lain-lain tidak akan dapat diakses oleh bagian gudang.

c. Function “Sales and Receivables”, Dengan mengklik function “Sales and Receivables” maka seluruh menu yang terdapat pada fungsi Sales and Receivables tersebut seperti Enter Sales, Receive Payment, Analyse Sales dan lain-lain tidak akan dapat diakses oleh bagian gudang.

d. Function “Time Billing“, Dengan mengklik fungsi “Time Billing” maka seluruh menu yang terdapat pada modul Time Billing tersebut seperti Activities List, Activity Information, Enter Activity Slip dan lain-lain tidak akan dapat diakses oleh bagian gudang.

e. Function “Purchase and Payables“, Khusus fungsi ini, cukup klik pada sub fungsi “Pay Bills”, karena funsi “PayBills” digunakan untuk mencatat pembayaran atas pembelian barang, dan biasanya ini dilakukan oleh bagian keuangan. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :

MYOB Purchase Function

f. Fungsi/Function “Receiveables and Payables“, Klik fungsi ini, untuk membatasi seluruh sub-sub fungsi dari “Receiveables and Payables“.

g. Selanjtnya Fungsi/Function “Inventories“, khusus fungsi ini, cukup diklik sub fungsinya saja yaitu “Set Item Prise” seperti gambar dibawah ini :

g. Selanjtnya pada Fungsi/Function “Report“, sub fungsi yang tidak dibatasi (tidak diklik) adalah sebagai berikut :

1. Receiveables and Payables Report,  dengan sub Report :

  • Purchases Register (All Purchases)
  • Purchases Register (Open Bills and Orders)
  • Purchases Register (Open Item Receipts)
  • Supplier Payment History
  • Supplier Payments

2. Inventory Report, Biarkan seluruh sub fungsi ini kosong, jangan diklik/diberi tanda silang)

Demikianlah penggunaan MYOB untuk divisi Pengadaan. Mohon maaf atas segala kekurangannye, dan jika ada masukan silahkan berikan komentar~

 

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Contoh Form Permohonan Penerimaan Barang Donasi (Receipt Item Request)

Untuk Download Contoh Form Permohonan Penerimaan Barang Donasi (Receipt Item Request) dengan format Excel

Klik Tombol dibawah ini

download icon

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)

Pengendalian Internal – Persediaan Barang

Pengelolaan Sediaan Barang Dagangan

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Manajemen Persediaan-Model Economic Order Quantity (EOQ)

MANAJEMEN PERSEDIAAN (INVENTORY MANAGEMENT)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Contoh Kasus Penilaian Persediaan dan Harga Pokok Penjualan

Persediaan awal dan pembelian Handphone Samsun selama tahun 200×1 sbb:

Tanggal Unit Harga Perunit (Rp)
01-Jan 160 Rp                 9.000
05-Mei 200 Rp                 9.200
28-Sep 200 Rp                 8.800
13-Des 140 Rp                 8.600

Pada Perhitungan fisik persediaan tanggal31 Desember 20×1 (sistem fisik digunakan oleh perusahaan) menunjukkan jumlah 190 unit handphone, Diminta isilah harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan menurut metode yang diminta dibawah ini :

Metode Persediaan 31 Desember Harga Pokok Penjualan
1. LIFO ……….. ………..
2.FIFO ……….. ………..
3. Rata-Rata Sederhanan ……….. ………..
3. Rata-Rata Tertimbang ……….. ………..

Jawab :

Metode Persediaan 31 Desember Harga Pokok Penjualan
1. LIFO Rp            1.716.000 Rp  4.528.000
2.FIFO Rp            1.644.000 Rp  4.600.000
3. Rata-Rata Sederhanan Rp            1.691.000 Rp  4.553.000
3. Rata-Rata Tertimbang Rp            1.698.000 Rp  4.549.200

Penjelasan :

Jumlah Persediaan awal 20×1 & Pembelian 20×1

01-Jan 160 Rp 9.000 Rp  1.440.000
05-Mei 200 Rp 9.200 Rp  1.840.000
28-Sep 200 Rp 8.800 Rp  1.760.000
13-Des 140 Rp 8.600 Rp  1.204.000
Jumlah Rp  6.244.000
1. Persediaan LIFO
160 x Rp 9.000 Rp  1.440.000
30 x Rp 9.200 Rp     276.000
- Nilai Persediaan Akhir 31 Des Rp  1.716.000
- Harga Pokok Penjualan = Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
= Rp            6.244.000 - Rp  1.716.000
= Rp            4.528.000
2. Persediaan FIFO
140 x 8.600 Rp  1.204.000
50 x 8.800 Rp     440.000
- Nilai Persediaan Akhir 31 Des Rp  1.644.000
- Harga Pokok Penjualan = Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
= Rp            6.244.000 - Rp  1.644.000
= Rp            4.600.000
3. Persediaan Rata-rata sederhanan :
= {(9.000.000+9.200.000+8.800.000+8.600.000) : 4} x 190
- Nilai Persediaan Akhir 31 Des = Rp            1.691.000
Harga Pokok Penjualan = Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
= Rp            6.244.000 - Rp  1.691.000
= Rp            4.553.000
4. Persediaan Rata-rata tertimbang :
= {6.244.000 / (160+200+200+140)} x 190
- Nilai Persediaan Akhir 31 Des = Rp            1.694.800
- Harga Pokok Penjualan = Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
= Rp            6.244.000 - Rp  1.694.800
= Rp            4.549.200

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Prosedur Pembelian Barang

Bagian 1. Tentang Asal timbulnya Permintaan Material.

1. Material yang akan dibeli diklasifikasikan dalam :

a. Consumable

b. Non Stock

c. Spare Part

d. Part Exchange

e. Fixed Assets

2. Pihak yang boleh menjadi peminta Barang dalam Proses Pembelian :

a. Consumable BPB bisa diterbitkan oleh store keeper tanpa NPB dengan diketahui oleh Site Engineer/Maint. Mgr dan disetujui Accounting, dengan mengacu pada Maintenance Plan , Budget serta posisi stok yang ada.

b. Spare Part BPB bisa diterbitkan oleh store keeper tanpa NPB dengan diketahui oleh Site Engineer/Maint. Mgr dan disetujui Accounting, dengan mengacu pada Maintenance Plan , Budget serta posisi stok yang ada.

c. Non Stock NPB dibuat oleh Lead Hand diketahui Site Engineer dan disetujui oleh Maint Mgr, dan BPB diterbitkan oleh store keeper dengan diketahui oleh Site Engineer/Maint. Mgr dan disetujui Accounting, dengan mengacu pada Maintenance Plan , Budget serta posisi stok yang ada.

d. Part Exchange NPB dibuat oleh Lead Hand diketahui Site Engineer diketahui Site Eng dan disetujui oleh Maint Mgr, BPB diterbitkan oleh store keeper dengan diketahui oleh Site Engineer/Maint. Mgr dan disetujui Accounting, dengan mengacu pada Maintenance Plan , Budget serta posisi stok yang ada.

Bagian II. Prosedur Pembuatan PO

3. Untuk pembelian Material yang bersifat regular, maka Purchasing meminta penawaran kepada minimal tiga (3) Vendor yang telah diverifikasi, dan menganalisis tiga penawaran terbaik yang masuk, dan membuat PO untuk persetujuan direksi dengan tetap menyertakan dua penawaran lain sebagai bahan perbandingan

4. Bila Direksi setuju maka PO telah di tanda tangani maka PO dikirimkan ke Vendor, bila tidak maka dibuatlah PO baru berdasarkan penawaran Vendor pembanding yang disetujui direksi, setelah PO dibuat dan disetujui direksi lalu dikirimkan ke Vendor.

5. Kemudian untuk Material yang bernilai ekonomis tinggi, atau dengan klasifikasi tertentu diserahkan ke Komite Vendor Selection, Panitia akan memilih tiga terbaik penawaran dengan mengacu pada

a. Aspek teknis, yaitu spesifikasi alat atau material kebutuhan sesuai dengan standart mutu yang diperlukan.

b. Aspek Keuangan yaitu terkait dengan harga dan proses pembayaran

c. Lead Time yaitu kemampuan Vendor mengirim material atau alat yang dibutuhkan.

6. Kemudian Purchasing membuat PO untuk persetujuan direksi dengan tetap menyertakan dua penawaran lain sebagai bahan perbandingan

7. Bila Direksi setuju maka PO telah di tanda tangani maka PO dikirimkan ke Vendor, bila tidak maka dibuatlah PO baru berdasarkan penawaran Vendor pembanding yang disetujui direksi, setelah PO dibuat dan disetujui direksi lalu dikirimkan ke Vendor.

8. Pada saat barang barang diterima, maka dilakukan pengecekan oleh Site Eng, dan bila barang yang dikirim sesuai PO baik secara teknis, maka diterbitkan LPB dari storekeper dan diketahui oleh Site Eng dan disetujui Maintenance Mgr. LPB dibuat sesuai dengan jumlah barang yang diterima.

9. Bila tidak sesuai dengan kualifikasi teknis maka diterbitkan Nota penolakan barang, yang dibuat oleh Site Eng, dan diketahui oleh Maint. Mgr. dan dikirimkan ke Vendor dan copy ke bag. Acc. & Store Keeper.

Bagian III Prosedur Pembayaran

10. Vendor Mengirim Tagihan berupa invoice Asli serta Faktur Pajak dengan melampirkan PO dan LPB

11. Resepsionis/Security menerima tagihan dari vendor, dan memberikan bukti tanda terima, yang berisi detail dokumen yang diserahkan serta tanggal pembayaran.

12. Dokumen diserahkan ke Accounting untuk verifikasi, bila kurang lengkap maka Accounting harus meminta kelengkapan. atau menolak invoice.

13. Setelah diverifikasi, accounting menyerahkan ke Finance untuk memproses pembayaran berdasarkan tanggal jatuh tempo yang tercantum dalam PO,

14. Finance menyiapkan Payment Voucher serta Cek/BG dan meminta persetujuan Direksi untuk melakukan Pembayaran.

15. Setelah Proses Pembayaran dilakukan, Accounting menerima semua dokumen untuk dibukukan sesuai dengan GAAP dan Standart Akuntansi Indonesia.

Perlakuan Khusus Untuk Pengadaan Fixed Asset:

a. Pengadaan Fixed Asset dibuat berdasarkan NPB yang diajukan oleh Manager Departemen, dan disetujui oleh Director,

b. Berdasarkan NPB, GA meminta penawaran dari Vendor

c. Penawaran Vendor masuk ke Panitia Seleksi Vendor dan panitia memilih tiga penawaran terbaik berdasarkan kelayakan teknis, financial dan Deliveri Time.

d. GA membuat PO untuk diajukan ke Direksi dengan melampirkan dua alternative lain yang telah terpilih, bila disetujui maka PO dikirim ke Vendor, bila tidak maka GA membuat PO baru berdasar Vendor lain yang dipilih Direksi.

e. Proses Selanjutnya sama dengan PO Reguler

Hal – Hal yang harus tercantum dalam dokumen.

1. NPB ( Nota Permintaan Barang )

a. Nomor NPB

b. Part No. & Description

c. Jumlah

d. Peruntukan

2. BPB ( Bukti Permintaan Barang )

a. Nomor BPB

b. Part No. & Description

c. Jumlah

d. Peruntukan

3. PO ( Purchasing Order )

a. Nomor PO, Nomor BPB & NPB ( if Any )

b. Nama Vendor, Alamat Vendor, PIC, Telp., Fax.

c. Detail Teknis Material

d. Detail Pembayaran

e. Delivery Time

f. Klausul Penolakan bila tidak sesuai dengan PO

4. LPB ( Lembar Penerimaan Barang )

a. Nomor PO

b. Part No. & Description

c. Jumlah

d. Peruntukan

5. Nota Penolakan Barang

a. Nomor PO

b. Part No. & Description

c. Jumlah & Peruntukan

d. Alasan Penolakan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Akuntansi Persediaan


04 AKUNTANSI PERSEDIAAN (13)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sistem Akuntansi Persediaan


Bagian Sistem Akuntansi Persediaan

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

PENETAPAN HARGA POKOK SISTEM PERIODIK – METODE FIFO

Didalam perhitungan Harga Pokok penjualan dengan menggunakan metode Periodik atau Metode Fisik dapat diketahui dengan perhitungan sbb:
HARGA POKOK PENJUALAN :
PERSEDIAAN AWAL                                                           Rp. XXX
PEMBELIAN BERSIH                                                           Rp. XXX +
PERSED.BRG U/ DIJUAL                                                     Rp. XXX
PERSEDIAAN AKHIR                                                           Rp XXX
HARGA POKOK PENJUALAN                                              Rp. ……


1. Persediaan awal tahun diketahui berdasarkan saldo akhir tahun lalu
2. Pembelian didapat dari data pembelian selama periode tahun laporan
3. Persediaan Barang dijual dapat dihitung dari data Persediaan Awal ditambah Pembelian
4. Persediaan Akhir ??? Bagaimanakah kita menghitungnya???karena untuk mengetahui harga pokok penjualan harus diketahui Nilai Persediaan Akhir
Ada 3 Metode Perhitungan didalam penentuan Harga Pokok, yaitu :
1. Metode Rata-rata
2. Metode FIFO
3. Metode LIFO

Kini mari kita bahas dengan menggunakan metode FIFO
Karena First in First Out berarti yang pertama masuk menjadi yang pertama keluar dengan demikian barang yang pertama dijual adalah dimulai dari persediaan awal
Persed akhir diket = 450 unit, maka dapat dilihat Jumlah barang terakhir (Persediaan Akhir ) didalam tabel dibawah ini :

Sistem Periodik – Metode FIFO

Keterangan :

Stok awal 1 Januari sebanyak 100 unit dengan harga pokok (harga perolehan) sebesar @Rp.10 maka total nilai persediaan=Rp.10 x 100 unit = Rp.1.000

Pada tanggal 1 Jan tersebut terjual sebanyak 100 unit, maka ? Persediaan akhir=0 (100 unit-100 unit)

12 April dilakukan pembelian sebanyak 200 unit seharga @ Rp.11, maka ? Pembelian = Rp.2.200

12 April dilakukan penjualan sebanyak 200 unit. maka ? Persediaan akhir per tanggal 12 April =0 (200 unit-200 unit)

20 Sep dilakukan pembelian sebannyak 300 unit seharga @ Rp.12, maka ? Pembelian = Rp.3.600

20 Sep terjual sebanyak 250 unit, maka ? Persediaan akhir per tanggal 20 Sep =50 (300 unit-250 unit)

29 Nop dilakukan pembelian sebannyak 400 unit seharga @ Rp.13, maka ? Pembelian = Rp.5.200

berdasarkan transaksi diatas maka Nilai Persediaan Akhir pertanggal 29 Nop adalah sebanyak 450 unit dengan nilai persediaan sebesar Rp. 5.800 dengan perhitungan seperti dibawah ini :

Perhitungan Harga Pokok – Metode FIFO

Nilai Persediaan sebesar Rp.5.800 tersebut menjadi nilai Persediaan yang disajikan didalam neraca akhir tahun jika sampai akhir tahun sudah tidak terdapat lagi transaksi.

sedangkan Nilai sebesar Rp. 6.200 adalah nilai Persediaan yang terjual/keluar yang disebut juga Harga Pokok Penjualan dan nilai ini akan disajikan kedalam Laporan Laba Rugi sebagai berikut :

Saldo Awal                            Rp. 1.000

Pembelian                                  11.000

Persediaan Akhir                         (5.800)

Harga Pokok Penjualan                 6.200

Ket : HP/U = Harga Poko Per Unit

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

PENETAPAN HARGA POKOK SISTEM PERIODIK – METODE RATA-RATA

Didalam perhitungan Harga Pokok penjualan dengan menggunakan metode Periodik atau Metode Fisik dapat diketahui dengan perhitungan sbb:

HARGA POKOK PENJUALAN :
PERSEDIAAN AWAL Rp. XXX
PEMBELIAN BERSIH Rp. XXX +
PERSED.BRG U/ DIJUAL Rp. XXX
PERSEDIAAN AKHIR Rp   XXX –
HARGA POKOK PENJUALAN Rp. ……

1. Persediaan awal tahun diketahui berdasarkan saldo akhir tahun lalu
2. Pembelian didapat dari data pembelian selama periode tahun laporan
3. Persediaan Barang dijual dapat dihitung dari data Persediaan Awal ditambah Pembelian
4. Persediaan Akhir ??? Bagaimanakah kita menghitungnya???karena untuk mengetahui harga pokok penjualan harus diketahui Nilai Persediaan Akhir
Ada 3 Metode Perhitungan didalam penentuan Harga Pokok, yaitu :
1. Metode Rata-rata
2. Metode FIFO
3. Metode LIFO

1. METODE RATA-RATA
Contoh. Nilai Persediaan PT Jaya Cellular per tanggal 31 Desember 2009 adalah 100 unit dengan Harga Pokok perunit (HP/Unit) Rp.10 = Rp. 1.000,-. Selama tahun 2010 dilakukan pembelian seperti dibawah ini:

klik disini untuk download gambar Tabel HP Persediaan 1

Pada tanggal 31 Desember 2010 dilakukan Stock Opname dan diketahui bahwa Jumlah Persediaan Akhir = 450 unit

Harga Pokok Per 31 Desember 2010 : = 12.000/1000
Maka nilai HP Rata-rata / Unit tgl 31 Des 2010 = 12

Setelah diketahui harga pokok rata2x per unit maka Persediaan akhir Dapat dihitung sebagai berikut :

Nilai Persediaan Akhir Per 31 Desember 2010 = 450 x 12
Nilai Persediaan Akhir Per 31 Desember 2010 = 5.400

Setelah diketahui Persediaan Akhir, barulah kita bisa mencari Harga Pokok Penjualan selama tahun 2010

HARGA POKOK PENJUALAN :
PERSEDIAAN AWAL 1.000
PEMBELIAN BERSIH 11.000 +
PERSED.BRG U/ DIJUAL 12.000
PERSEDIAAN AKHIR 5.400 -
HARGA POKOK PENJUALAN 6.600

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Persediaan Barang Dagang ( Merchandise Inventory ) – Umum

Sistem Pencatatan Persediaan dibagi menjadi 2 :

1.  INVENTARISASI PERIODIK / METODE FISIK

2.  PERPETUAL / BALANCE PERMANEN

1. METODE FISIK :

- PEMBELIAN : DICATAT PADA PERKIRAAN “PEMBELIAN” SEBESAR HARGA POKOKNYA

– PENJUALAN : DICATAT PADA PERKIRAAN “PENJUALAN” SEBESAR HARGA JUAL

– HARGA POKOK PENJUALAN :

PERSEDIAAN AWAL                                                                Rp. XXX

PEMBELIAN BERSIH                                                                Rp. XXX +

PERSEDIAAN BARANG UNTUK  DIJUAL          Rp. XXX

PERSEDIAAN AKHIR                                                                Rp XXX –

HARGA POKOK PENJUALAN                                       Rp. ……

– PERK.”PERSEDIAAN BARANG.DAGANG ” DIGUNAKAN UNTUK MENCATAT JUMLAH PERSEDIAAN PADA AWAL / AKHIR PERIODE SESUAI HASIL INVENTARISASI

- PERLU ADJUSTMENT PADA AKHIR PERIODE AKUNTANSI

AJE ( ADJUSTMENT JOURNAL ENTRY ):

MENIADAKAN PERSEDIAAN AWAL :

DR.  IKHTISAR L/R

KR. PERSEDIAAN BRG. DAG (AWAL

MENAMPAKKAN PERSEDIAAN AKHIR :

DR. PERSEDIAAN BRG. DAG (AKHIR)

KR. IKHTISAR L/R

2. METODE PERPETUAL

- PERK. “PERSEDIAAN BRG.DAG.” DIGUNAKAN UNTUK MENCATAT SETIAP TERJADI MUTASI PERSEDIAAN
- TRANSAKSI PENJUALAN – 2 AYAT JURNAL  :

1. MENCATAT HASIL PENJUALAN

2. MENGKREDIT PERSEDIAAN SEBESAR HARGA POKOKNYA

– TIDAK PERLU ADJUSMENT PADA AKHIR PERIODE AKUNTANSI

PENETAPAN HARGA POKOK PENJUALAN :

- METODE RATA-RATA
- METODE FIFO
- METODE LIFO

NILAI AKHIR PERSEDIAAN :

A. LOWER COST OR MARKET

B. HARGA TAKSIRAN :

B.1  METODE LABA KOTOR

B.2 METODE ECERAN

Transaksi

Prepetual

Periodik

Pembelian

Persediaan xx

Kas/Hut xx

Pembelian xx

Kas/Hut xx

Retur pembelian

& pot harga

Hutang xx

Persediaan xx

Hutang xx

Retur Pemb xx

Biaya Angkut

Persediaan xx

Kas xx

Bi. Angkut xx

kas xx

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Alur Pencatatan Pembelian Motor Dealer Yamaha

Dibawah ini merupakan alur pembelian yang dilakukan oleh Dealer Resmi Yamaha

Contoh :

Pembelian melalui PT Yamaha

  1. Tanggal 30 Juni PT Yamaha mengirimkan Surat Alokasi kepada PT 7 Berlian sebanyak 18 motor seharga 54 juta rupiah untuk bulan Juli 2009
  2. Atas Alokasi tersebut, PT 7 Berlian membuat Open Giro pada tanggal 6 Juli yang akan dicairkan pada tanggal 10 Juli 2009
  3. Pada tanggal 10 Juli 2009 Open Giro cair dan ditransfer ke rekening Yamaha maka di jurnal :

Dr. Deposit Alokasi (Uang Muka)             Rp. 54.000.000

Kr. Bank X                                                                    Rp.54.000.000

5. PT Yamaha baru mengirimkan motor pada tanggal 12 Juli 2009. Atas penerimaan motor ini maka perusahaan menjurnal

Dr. Persediaan – Motor    Rp. 49.090.909

Dr. PPn Masukan              Rp.      4.909.091

Kr. Deposit Alokasi ( Uang Muka )           Rp. 54.000.

  Copyright protected by Digiprove © 2010 Varin Kaspi

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)